Hubungan India dan Israel menjadi salah satu fenomena penting dalam geopolitik Asia. Kedua negara kini mempunyai kerja sama yang luas dalam bidang pertahanan, teknologi, pertanian, keamanan, perdagangan, dan berbagai sektor strategis lainnya. Namun, kedekatan tersebut tidak dapat dijelaskan hanya dengan mengatakan bahwa masyarakat India secara umum tidak menyukai Muslim atau bahwa dukungan terhadap Israel semata-mata muncul dari faktor agama. India merupakan negara dengan populasi sangat besar, masyarakat yang beragam, serta sejarah hubungan Hindu-Muslim yang panjang dan kompleks. Di sisi lain, hubungan India dengan Israel juga telah berkembang melalui kepentingan strategis negara, kebutuhan pertahanan, teknologi, serta dinamika politik domestik. Karena itu, pertanyaan tentang mengapa India mendukung Israel dan bagaimana hubungan India-Israel berkembang perlu dilihat dari beberapa lapisan sekaligus.
Pembicaraan mengenai India dan Israel sering kali bersinggungan dengan isu lain, mulai dari politik identitas, hubungan Hindu-Muslim, konflik India-Pakistan, Kashmir, hingga perkembangan politik di bawah pemerintahan Narendra Modi. Akan tetapi, menghubungkan semua persoalan tersebut sebagai satu rantai sebab-akibat yang sederhana justru berisiko menghilangkan konteks sejarah. Hubungan antarnegara biasanya terbentuk dari banyak kepentingan yang berjalan bersamaan. India, misalnya, secara resmi mengakui Israel pada 1950, tetapi hubungan diplomatik penuh baru dibuka pada 1992. Pemerintah India juga tetap mempunyai sejarah dukungan terhadap perjuangan Palestina, termasuk pengakuan terhadap Organisasi Pembebasan Palestina pada 1975 dan pengakuan terhadap Palestina pada 1988.
Mengapa India Dekat dengan Israel? Jawabannya Tidak Sesederhana Faktor Agama
India dan Israel saat ini memang memiliki hubungan strategis yang erat. Kementerian Luar Negeri India menyebut kedua negara sebagai mitra strategis, dengan kerja sama yang mencakup pertahanan, kontraterorisme, pertanian, air, teknologi, perdagangan, serta berbagai mekanisme konsultasi bilateral. Hubungan tersebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan setelah Narendra Modi menjadi perdana menteri, terutama setelah kunjungan Modi ke Israel pada 2017 yang memperkuat hubungan bilateral pada tingkat strategis.
Dalam perkembangan terbaru, kedekatan tersebut juga terlihat dalam bidang pertahanan. Pada Februari 2026, India dan Israel kembali menyepakati penguatan kerja sama pertahanan, termasuk rencana pengembangan bersama, produksi, dan transfer teknologi pertahanan. Perkembangan ini menunjukkan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya berkaitan dengan preferensi politik terhadap konflik Timur Tengah, tetapi juga mempunyai kepentingan keamanan dan industri yang konkret.
Data perdagangan senjata memperlihatkan betapa pentingnya hubungan tersebut. Menurut Stockholm International Peace Research Institute atau SIPRI, dalam periode 2020–2024 India menjadi penerima terbesar ekspor persenjataan utama Israel, dengan porsi sekitar 34% dari ekspor senjata utama Israel. Angka tersebut menunjukkan kedalaman hubungan pertahanan kedua negara, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa penyebab utama hubungan tersebut adalah permusuhan terhadap Islam.
Hubungan India dan Israel Sudah Ada Sebelum Era Narendra Modi
Ada anggapan bahwa kedekatan India dengan Israel baru muncul setelah Narendra Modi dan BJP berkuasa. Kenyataannya, proses tersebut berlangsung jauh lebih panjang. India mengakui Israel pada September 1950, sedangkan hubungan diplomatik penuh baru dibentuk pada 1992. Dengan demikian, hubungan India-Israel telah berkembang melalui beberapa pemerintahan dengan latar politik yang berbeda.
Kerja sama pertahanan juga bukan sesuatu yang benar-benar baru. Pemerintah India mencatat adanya hubungan pertahanan sejak periode sebelumnya, sementara kerja sama bilateral kemudian berkembang ke sektor pertanian, teknologi air, keamanan, antiterorisme, dan perdagangan. Jadi, jika membahas sejarah hubungan India dan Israel, penting untuk tidak menempatkan seluruh perkembangan tersebut hanya pada satu tokoh atau satu partai politik.
Era Modi memang membawa hubungan tersebut ke tingkat yang lebih terbuka dan strategis. Kunjungan Narendra Modi ke Israel pada 2017 menjadi kunjungan pertama seorang perdana menteri India ke Israel dan diikuti sejumlah kesepakatan di berbagai sektor. Hubungan kemudian terus berkembang, termasuk dalam bidang pertahanan dan teknologi.
Politik Identitas Hindu di India dan Hubungannya dengan BJP
Salah satu bagian yang tidak dapat diabaikan ketika membahas politik India modern adalah munculnya politik identitas Hindu. Bharatiya Janata Party atau BJP sering dikategorikan sebagai partai nasionalis Hindu. Pada saat yang sama, berbagai organisasi dan pengamat telah memperdebatkan dampak politik tersebut terhadap kelompok minoritas, khususnya Muslim.
Human Rights Watch, misalnya, mendokumentasikan berbagai pernyataan dan kebijakan yang menurut organisasi tersebut berdampak diskriminatif terhadap Muslim dan kelompok minoritas lainnya. Dalam laporan mengenai pemilu India 2024, organisasi tersebut menyatakan bahwa sejumlah pidato kampanye Narendra Modi dan tokoh BJP menggunakan retorika yang menargetkan Muslim. Pemerintah India dan Modi sendiri menolak tuduhan bahwa mereka anti-Muslim dan tetap menekankan komitmen terhadap demokrasi serta keberagaman India.
Perdebatan tersebut penting karena politik identitas memang dapat memengaruhi cara masyarakat memandang isu domestik maupun internasional. Namun, perlu dibedakan antara politik BJP, pandangan sebagian pendukung BJP, dan sikap seluruh masyarakat India. Ketiganya bukan hal yang sama.
India mempunyai lebih dari satu miliar penduduk dengan latar belakang agama, etnis, bahasa, kasta, wilayah, dan pilihan politik yang sangat beragam. Karena itu, pernyataan bahwa masyarakat India secara keseluruhan membenci Muslim tidak dapat digunakan sebagai kesimpulan yang mewakili seluruh populasi.
Data Toleransi Hindu-Muslim di India Menunjukkan Gambaran yang Lebih Rumit
Survei Pew Research Center memberikan gambaran yang jauh lebih kompleks. Dalam survei mengenai segregasi keagamaan di India, mayoritas umat Hindu yang diteliti menyatakan bersedia menerima anggota kelompok agama lain sebagai tetangga. Namun, terdapat pula kelompok yang mempunyai keberatan terhadap tetangga Muslim. Sekitar 57% Hindu dalam survei tersebut mengatakan bersedia menerima Muslim sebagai tetangga, sementara 36% menyatakan tidak bersedia.
Angka tersebut penting karena menunjukkan dua hal sekaligus. Pertama, sentimen negatif terhadap Muslim memang nyata dan cukup besar pada sebagian masyarakat. Kedua, sentimen tersebut tidak dapat digeneralisasi menjadi pandangan seluruh umat Hindu di India.
Pew juga menemukan perbedaan berdasarkan wilayah dan tingkat pendidikan. Hindu yang tinggal di India bagian selatan, misalnya, cenderung menunjukkan tingkat penerimaan yang lebih tinggi terhadap Muslim dibandingkan beberapa wilayah lainnya. Orang yang mempunyai pendidikan perguruan tinggi juga cenderung lebih menerima keberadaan kelompok agama lain sebagai tetangga.
Dengan demikian, istilah seperti India membenci Islam terlalu sederhana untuk menggambarkan kenyataan sosial yang jauh lebih beragam. Istilah yang lebih tepat adalah bahwa India memiliki persoalan segregasi agama dan ketegangan komunal yang nyata, tetapi tingkat dan bentuknya berbeda-beda di antara wilayah serta kelompok masyarakat.
Sejarah India dan Pakistan Membentuk Hubungan yang Sangat Kompleks
Untuk memahami mengapa sentimen terhadap Muslim dan Pakistan mempunyai tempat penting dalam politik India, sejarah pemisahan British India pada 1947 perlu diperhatikan. Kemerdekaan dari Inggris berlangsung bersamaan dengan pembentukan India dan Pakistan, yang diikuti migrasi besar-besaran, kekerasan komunal, dan trauma sejarah yang terus memengaruhi hubungan kedua negara.
Pemisahan tersebut tidak berlangsung dalam masyarakat yang benar-benar terpisah berdasarkan agama. Muslim tinggal di berbagai wilayah yang kemudian menjadi India, sementara Hindu dan kelompok agama lainnya juga tinggal di wilayah yang kemudian menjadi Pakistan. Akibatnya, proses perpindahan penduduk menjadi sangat kacau dan menimbulkan kekerasan dalam skala besar.
Warisan sejarah tersebut kemudian berkembang menjadi konflik antarnegara yang berkepanjangan. India dan Pakistan beberapa kali berperang, sementara isu Jammu dan Kashmir menjadi salah satu persoalan utama yang belum sepenuhnya terselesaikan. Perselisihan tersebut juga membuat identitas nasional, agama, keamanan, dan politik domestik saling berkelindan.
Kashmir Menjadi Bagian Penting dalam Hubungan India-Pakistan
Jammu dan Kashmir mempunyai sejarah yang sangat rumit sejak masa pembentukan India dan Pakistan. Wilayah tersebut memiliki mayoritas penduduk Muslim, tetapi pada 1947 berada di bawah pemerintahan seorang maharaja Hindu. Keputusan mengenai masa depan wilayah tersebut kemudian menjadi salah satu pemicu konflik antara India dan Pakistan.
Perang, perubahan wilayah administratif, gerakan separatis, serta aktivitas kelompok bersenjata membuat Kashmir tidak hanya menjadi persoalan teritorial, tetapi juga persoalan identitas. Bagi sebagian masyarakat India, ancaman keamanan yang dikaitkan dengan Pakistan dan kelompok bersenjata turut membentuk persepsi negatif terhadap sebagian Muslim. Namun, penting untuk membedakan antara kelompok bersenjata, pemerintah Pakistan, warga Muslim India, dan umat Islam secara keseluruhan.
Pembedaan tersebut menjadi semakin penting karena India sendiri mempunyai populasi Muslim yang sangat besar. Menyamakan seluruh Muslim India dengan kelompok yang berkonflik dengan negara akan menghasilkan generalisasi yang tidak sesuai dengan kenyataan demografis maupun sosial.
Bagaimana Konflik India-Pakistan Memengaruhi Persepsi terhadap Muslim?
Konflik India-Pakistan menciptakan kondisi ketika isu agama dan keamanan terkadang saling beririsan. Serangan teror, konflik Kashmir, dan ketegangan militer dapat memperkuat sentimen nasionalisme serta rasa tidak percaya terhadap kelompok yang dianggap berhubungan dengan musuh.
Dalam konteks politik, narasi semacam itu dapat menjadi sangat kuat karena menyentuh memori kolektif masyarakat. Human Rights Watch mencatat bahwa setelah serangan mematikan di Jammu dan Kashmir pada 2025, peningkatan retorika kebencian terhadap Muslim di sejumlah wilayah India kembali terlihat.
Namun, dari sudut pandang analisis politik, hal tersebut tetap tidak membuktikan bahwa seluruh dukungan India terhadap Israel berasal dari sentimen anti-Muslim. Hubungan internasional India juga dipengaruhi kebutuhan pertahanan, teknologi, keamanan, perdagangan, dan kepentingan strategis lainnya.
Kasta, Segregasi Sosial, dan Keragaman Masyarakat India
Selain agama, sistem kasta merupakan bagian penting dalam memahami struktur sosial India. Akan tetapi, kasta tidak dapat disederhanakan hanya sebagai sistem orang kaya dan orang miskin. Sistem tersebut mempunyai sejarah panjang, berlapis, dan berbeda penerapannya berdasarkan wilayah serta komunitas.
Dalam masyarakat India modern, diskriminasi berbasis kasta masih menjadi persoalan yang didokumentasikan berbagai lembaga. Human Rights Watch juga mencatat adanya diskriminasi dan kekerasan terhadap Dalit.
Konsep segregasi juga berlaku pada hubungan antaragama. Survei Pew menunjukkan bahwa banyak warga India mempunyai jaringan pertemanan yang sebagian besar berasal dari kelompok agama mereka sendiri. Dalam kondisi tertentu, minimnya interaksi antar kelompok dapat membuat prasangka menjadi lebih sulit dikoreksi melalui pengalaman langsung.
Akan tetapi, fenomena tersebut tidak unik bagi India dan tidak dapat dijadikan alasan untuk menyebut masyarakat India sebagai bangsa yang secara keseluruhan rasis. Lebih tepat membahasnya sebagai persoalan diskriminasi, segregasi sosial, dan hubungan antarkelompok yang mempunyai tingkat berbeda di berbagai bagian negara tersebut.
Apakah Ritual Hindu Berhubungan dengan Kedekatan India terhadap Israel?
Di sinilah sebuah kesimpulan perlu dibuat secara hati-hati. Praktik keagamaan Hindu memang mempunyai konsep dan tradisi yang berbeda secara mendasar dari Islam. Hindu memiliki tradisi pemujaan terhadap berbagai bentuk manifestasi ilahi, simbol, dewa, tempat suci, dan objek keagamaan tertentu. Sementara itu, Islam mempunyai konsep tauhid yang menempatkan penyembahan hanya kepada Allah.
Perbedaan teologis tersebut merupakan fakta penting untuk memahami mengapa ritual kedua agama bisa terlihat sangat berbeda. Namun, mengatakan bahwa perbedaan teologi tersebut secara langsung menyebabkan India mendukung Israel merupakan lompatan kesimpulan yang belum didukung bukti.
Demikian pula, cerita mengenai benda tertentu yang dianggap suci, termasuk fenomena benda berbentuk simbol keagamaan, tidak dapat dijadikan dasar untuk menjelaskan kebijakan luar negeri sebuah negara berpenduduk lebih dari satu miliar orang. Praktik keagamaan individu dan kebijakan strategis pemerintah merupakan dua level analisis yang berbeda.
Mengapa India Menjadi Pembeli Utama Senjata Israel?
Jika ingin mencari hubungan yang konkret antara India dan Israel, sektor pertahanan justru menyediakan data yang jauh lebih kuat. SIPRI mencatat bahwa India menjadi penerima terbesar ekspor senjata utama Israel pada periode 2020–2024 dengan sekitar 34% dari total ekspor senjata utama Israel.
Kerja sama tersebut masuk akal jika dilihat dari kebutuhan strategis India. India memiliki wilayah perbatasan yang panjang, hubungan yang tegang dengan Pakistan dan China, serta kebutuhan modernisasi militernya sendiri. Israel, di sisi lain, mempunyai industri pertahanan yang menawarkan berbagai sistem teknologi, termasuk rudal, sensor, sistem pengawasan, dan perangkat keamanan.
Hubungan pertahanan kemudian menghasilkan ketergantungan dan kepentingan bersama. Ketika kedua negara telah bekerja sama dalam pengembangan teknologi, pembelian senjata, pelatihan, dan keamanan, hubungan diplomatik dapat berkembang menjadi semakin luas.
Karena itu, alasan India membeli senjata dari Israel tidak perlu dijelaskan melalui satu teori tentang agama. Faktor keamanan nasional merupakan penjelasan yang jauh lebih langsung dan dapat didukung oleh data perdagangan pertahanan.
Hubungan India-Israel Juga Berkaitan dengan Teknologi dan Ekonomi
Kerja sama kedua negara tidak berhenti pada persenjataan. Pemerintah India mencatat kerja sama dalam pertanian, pengelolaan air, kontraterorisme, teknologi, kesehatan, dan berbagai bidang ekonomi. Perdagangan bilateral juga berkembang jauh sejak hubungan diplomatik penuh dibuka pada 1992.
Dalam hubungan internasional, kerja sama semacam ini menciptakan kepentingan yang saling menguntungkan. Negara tidak harus mempunyai pandangan identik mengenai semua persoalan dunia untuk membangun hubungan strategis.
India juga mempunyai hubungan dengan banyak negara sekaligus. Kedekatan dengan Israel tidak berarti India otomatis mengikuti seluruh kebijakan Israel. Begitu pula hubungan India dengan Amerika Serikat, Rusia, negara-negara Arab, Iran, dan negara lainnya menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri India sering kali bersifat pragmatis dan berorientasi pada kepentingan nasional.
Apakah Seluruh Masyarakat India Mendukung Israel?
Tidak. Data survei menunjukkan gambaran yang jauh lebih beragam. Dalam survei Pew Research Center pada 2025, pandangan terhadap Israel di India relatif terbagi: 34% responden memiliki pandangan positif terhadap Israel, sementara 29% memiliki pandangan negatif.
Angka tersebut berbeda jauh dari gambaran bahwa masyarakat India secara keseluruhan sangat pro-Israel. Bahkan ketika hubungan pemerintah India dan Israel semakin erat, opini publik tidak otomatis bergerak dalam satu arah.
Perlu juga dibedakan antara persepsi terhadap Israel, sikap terhadap pemerintah Israel, sikap terhadap Palestina, dan dukungan terhadap kerja sama bilateral India-Israel. Keempat hal tersebut dapat menghasilkan jawaban yang berbeda dalam survei.
Mengapa India Tetap Memiliki Hubungan dengan Palestina?
Salah satu bagian penting yang sering terlupakan dalam pembahasan hubungan India-Israel adalah sejarah panjang dukungan India terhadap Palestina. Pemerintah India mencatat bahwa negara tersebut mengakui PLO sebagai wakil rakyat Palestina pada 1975 dan menjadi salah satu negara awal yang mengakui Negara Palestina pada 1988.
Artinya, kebijakan luar negeri India tidak dapat digambarkan sebagai hubungan yang sepenuhnya meninggalkan Palestina demi Israel. India dapat membangun hubungan strategis dengan Israel sekaligus mempertahankan hubungan diplomatik dan posisi tertentu terkait Palestina.
Inilah salah satu ciri politik luar negeri negara besar: kebijakan tidak selalu mengikuti logika memilih satu pihak dan memusuhi pihak lain. Sebuah negara dapat bekerja sama dengan dua pihak yang sedang berkonflik ketika kepentingan nasionalnya mengharuskan hubungan tersebut tetap berjalan.
Perubahan Opini Dunia terhadap Israel Tidak Otomatis Mengubah Kebijakan India
Opini publik internasional terhadap Israel memang mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pew Research Center pada 2025 menemukan bahwa di 20 dari 24 negara yang disurvei, sekitar separuh atau lebih responden mempunyai pandangan negatif terhadap Israel. Di India, distribusinya relatif lebih terbagi dibandingkan banyak negara lain.
Pada 2026, sejumlah negara kembali menunjukkan peningkatan pandangan negatif terhadap Israel. Misalnya, Pew mencatat peningkatan signifikan pandangan negatif di beberapa negara yang disurvei. Namun, data tersebut tidak berarti setiap pemerintah akan mengubah kebijakan luar negerinya dengan kecepatan yang sama.
Hubungan internasional tidak hanya ditentukan oleh sentimen masyarakat. Pemerintah juga mempertimbangkan pertahanan, ekonomi, teknologi, energi, keamanan, diplomasi, dan kepentingan geopolitik jangka panjang.
Politik Identitas dan Hubungan Luar Negeri: Ada Hubungan, tetapi Tidak Tunggal
Politik identitas memang dapat memengaruhi hubungan luar negeri. Pemerintah dapat menggunakan simbol, sejarah, agama, dan isu internasional untuk membangun dukungan politik domestik. Dalam konteks India, kajian mengenai nasionalisme Hindu dan politik BJP memang relevan untuk memahami bagaimana isu agama digunakan dalam arena politik. Human Rights Watch, misalnya, mendokumentasikan penggunaan retorika terkait Muslim dalam kampanye politik BJP pada 2024.
Namun, hubungan antara politik identitas dan kebijakan luar negeri tidak otomatis berarti bahwa hubungan India-Israel semata-mata dibangun karena permusuhan terhadap Muslim. Hubungan tersebut sudah berkembang selama puluhan tahun dan mencakup kepentingan pertahanan serta ekonomi yang dapat berdiri sendiri sebagai faktor penjelas.
Karena itu, analisis yang lebih kuat adalah melihat beberapa faktor secara bersamaan: sejarah India-Pakistan, persoalan keamanan, politik domestik, nasionalisme Hindu, kebutuhan pertahanan, perkembangan teknologi, kepentingan ekonomi, serta hubungan diplomatik India dengan Israel dan Palestina.
India dan Israel pada 2026: Hubungan Strategis yang Semakin Dalam
Pada 2026, hubungan India-Israel menunjukkan tanda-tanda pendalaman lebih lanjut. Kunjungan Narendra Modi ke Israel pada Februari 2026 menghasilkan pengumuman mengenai penguatan kerja sama pertahanan, termasuk pengembangan bersama, produksi, dan transfer teknologi. Kedua negara juga membahas hubungan ekonomi dan proses menuju perjanjian perdagangan bebas.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hubungan India-Israel kini telah menjadi hubungan strategis yang mempunyai fondasi institusional. Hubungan seperti ini tidak mudah dijelaskan hanya dengan perubahan sentimen publik atau satu isu keagamaan.
Di sisi lain, isu Palestina tetap menjadi bagian dari diplomasi India. Karena itu, memahami kebijakan India terhadap Israel membutuhkan pendekatan yang lebih hati-hati daripada sekadar menganggap India sebagai sekutu Israel dalam semua persoalan.
Hubungan India-Israel Lebih Kompleks daripada Sekadar Persoalan Agama
Pertanyaan mengapa India dekat dengan Israel tidak mempunyai satu jawaban sederhana. Sejarah konflik India-Pakistan, persoalan Kashmir, kebutuhan keamanan, perkembangan industri pertahanan, teknologi, ekonomi, politik domestik, serta meningkatnya peran nasionalisme Hindu semuanya dapat menjadi bagian dari analisis.
Sentimen negatif terhadap Muslim memang merupakan fenomena yang terdokumentasi pada sebagian masyarakat India. Survei Pew menunjukkan adanya keberatan sebagian Hindu terhadap Muslim sebagai tetangga, sementara laporan organisasi hak asasi juga mendokumentasikan diskriminasi dan retorika politik terhadap kelompok minoritas. Namun, data yang sama tidak mendukung kesimpulan bahwa seluruh masyarakat India membenci Muslim.
Hubungan India dengan Israel juga bukan fenomena yang baru muncul pada era Narendra Modi. India mengakui Israel pada 1950 dan membuka hubungan diplomatik penuh pada 1992. Sejak itu, kerja sama berkembang hingga menjadi kemitraan strategis dalam pertahanan, teknologi, pertanian, perdagangan, dan keamanan.
Sementara itu, hubungan India dengan Palestina juga mempunyai sejarah yang panjang. Fakta tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan luar negeri India tidak dapat diringkas menjadi anti-Muslim berarti pro-Israel. Ada kepentingan strategis yang jauh lebih luas di belakangnya.
Pembahasan mengenai India, Israel, Palestina, Hindu-Muslim, BJP, dan politik identitas akan lebih berguna apabila setiap klaim dipisahkan antara fakta sejarah, data survei, kepentingan geopolitik, serta interpretasi politik. Perbedaan agama memang menjadi bagian dari sejarah India, tetapi hubungan internasional sebuah negara besar dibentuk oleh jauh lebih banyak faktor daripada praktik keagamaan masyarakatnya.




Comments
Post a Comment