Skip to main content

Dugaan Mengapa Menteri Keuangan Dicopot?

Pergantian Menteri Keuangan Mas Pur pada September 2026 menjadi salah satu perubahan politik-ekonomi yang menarik perhatian. Mas Pur hanya sekitar satu tahun menduduki posisi tersebut setelah menggantikan Sri Mulyani Indrawati pada September 2025. Pada 14 September 2026, Presiden melantik Menteri Keuangan baru, sementara serah terima jabatan berlangsung sehari kemudian di Kementerian Keuangan. Pemerintah menyebut pergantian menteri sebagai hal yang lumrah dan tidak menyampaikan satu alasan khusus yang menjadi dasar pencopotan Mas Pur.

Situasi tersebut kemudian memunculkan berbagai analisis mengenai alasan Mas Pur dicopot sebagai Menteri Keuangan. Hal yang kembali diperbincangkan menghubungkan pergantian itu dengan sejumlah persoalan, mulai dari gaya komunikasi Mas Pur, kebijakan fiskal, hubungannya dengan program Makan Bergizi Gratis, konflik kepentingan antarlembaga, hingga dugaan persoalan internal. Namun, penting untuk membedakan antara analisis pembuat video dengan fakta resmi mengenai keputusan Presiden.

Pembahasan mengapa Mas Pur dicopot dari Menteri Keuangan tidak tepat jika hanya dijawab melalui satu dugaan. Ada sejumlah faktor ekonomi dan politik yang dapat dianalisis, tetapi tidak semuanya telah dikonfirmasi sebagai alasan resmi pencopotan.

Prediksi tentang Mas Pur yang Kembali Viral

Sebelum membahas tujuh alasan, ada bagian menarik mengenai bagaimana sebuah prediksi politik dapat berubah menjadi narasi seolah-olah merupakan ramalan. Mengingat kembali pernyataannya dari Oktober 2025 mengenai kemungkinan Mas Pur mengalami pergantian posisi pada rentang 2026.

Dalam kasus Mas Pur, fakta yang sudah diketahui sekarang memang menunjukkan bahwa pergantian itu terjadi pada September 2026. Namun, fakta tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh rangkaian dugaan mengenai penyebab pencopotan yang disampaikan sebelum atau sesudahnya juga benar.

Mas Pur Resmi Digantikan

Perubahan posisi Menteri Keuangan bukan lagi sekadar prediksi. Pada 14 September 2026, Prabowo melantik Menteri Keuangan Baru menggantikan Mas Pur. Penggantinya sebelumnya merupakan Wakil Menteri Keuangan dan kemudian mendapatkan arahan Presiden untuk menjaga kesehatan serta kredibilitas keuangan negara.

Pergantian tersebut terjadi setelah sekitar satu tahun Mas Pur berada di Kementerian Keuangan. Reuters melaporkan bahwa masa jabatan Mas Pur berlangsung dalam situasi ekonomi yang penuh tekanan, termasuk kekhawatiran investor, pelebaran defisit anggaran, serta penurunan peringkat atau prospek kredit dari lembaga pemeringkat. Mas Pur sendiri mengatakan dirinya kecewa atas pencopotan tersebut, meskipun mengaku sebagian sudah memperkirakan kemungkinan itu karena adanya perbedaan pandangan dengan sejumlah pejabat.

Dari sisi pemerintah, tidak terdapat penjelasan publik yang menyatakan bahwa Mas Pur dicopot karena satu kasus tertentu. Karena itu, berbagai teori mengenai pencopotan tersebut perlu ditempatkan sebagai analisis, bukan sebagai fakta resmi.

1. Popularitas Mas Pur Menjadi Salah Satu Isu yang Dibahas

Alasan pertama adalah popularitas Mas Pur. Muncul argumentasi bahwa pejabat yang semakin dikenal masyarakat dapat memiliki pengaruh politik yang lebih besar. Popularitas bahkan dapat membuat seorang menteri mulai dibicarakan dalam konteks kontestasi politik masa depan.

Gagasan tersebut merupakan interpretasi politik, bukan alasan resmi yang diumumkan pemerintah. Sampai pergantian Mas Pur diumumkan, tidak ada pernyataan resmi dari Istana yang menyebut popularitas politik Mas Pur sebagai alasan pencopotannya.

Meski demikian, gaya komunikasi Mas Pur memang menjadi bagian yang cukup menonjol selama menjabat. Ia sering memberikan komentar mengenai perekonomian secara terbuka dan menyampaikan target yang cukup optimistis. Reuters mencatat bahwa Mas Pur dikenal dengan gaya yang lebih terbuka dan kebijakan yang tidak selalu konvensional selama menjadi Menteri Keuangan.

Dalam politik, popularitas seorang pejabat memang dapat menjadi objek pembicaraan. Namun, menyimpulkan bahwa popularitas tersebut secara langsung menyebabkan pencopotan membutuhkan bukti yang lebih kuat.

2. Perbedaan Pandangan Ekonomi dengan Lembaga Internasional

Ada juga yang membahas sikap Mas Pur terhadap lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Ia menggambarkan Mas Pur sebagai pejabat yang cenderung kritis terhadap sejumlah pandangan ekonomi yang datang dari institusi global.

Persoalan tersebut dapat dilihat dari karakter kebijakan Mas Pur yang memang lebih agresif dalam mendorong pertumbuhan. Selama masa jabatannya, pemerintah menghadapi tantangan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus menjaga stabilitas fiskal.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri pada kuartal II 2026 tercatat 5,29 persen secara tahunan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya, tetapi masih lebih tinggi daripada perkiraan sejumlah analis. Mas Pur saat itu menyatakan pertumbuhan tersebut belum cukup dan pemerintah tetap memiliki target pertumbuhan yang lebih tinggi.

Karena itu, kebijakan Mas Pur terhadap IMF dan Bank Dunia lebih tepat dilihat sebagai bagian dari perbedaan pendekatan ekonomi daripada langsung dianggap sebagai penyebab pencopotan. Tidak terdapat pengumuman pemerintah yang menyatakan konflik dengan lembaga internasional sebagai alasan resmi pergantian Menteri Keuangan.

3. Target Ekonomi Tinggi dan Risiko Ekspektasi Berlebihan

Gaya optimistis Mas Pur menjadi pembahasan lain. Sebagai Menteri Keuangan, ia menyampaikan sejumlah target ekonomi yang tinggi, termasuk ambisi pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju 8 persen.

Target pertumbuhan tersebut memang sejalan dengan ambisi pemerintah untuk meningkatkan laju perekonomian. Persoalannya, target ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan Menteri Keuangan. Konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor-impor, produktivitas industri, kebijakan moneter, kondisi global, serta kepercayaan investor semuanya ikut memengaruhi pertumbuhan.

Data kuartal II 2026 menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Reuters melaporkan bahwa angka tersebut berada di atas perkiraan 5,1 persen, tetapi tetap menunjukkan perlambatan dibandingkan kuartal sebelumnya.

Dengan kondisi seperti itu, perbedaan antara target dan realisasi menjadi salah satu bahan evaluasi kebijakan ekonomi. Namun, menyebut ketidaksesuaian target sebagai penyebab langsung pencopotan Mas Pur juga belum dapat dipastikan karena pemerintah tidak memberikan alasan spesifik mengenai pergantian tersebut.

4. Kebijakan Agresif dan Penataan Internal Kementerian Keuangan

Bagian berikutnya adalah kebijakan Mas Pur yang dianggap agresif, termasuk upaya melakukan perubahan di lingkungan Kementerian Keuangan. Video tersebut menggambarkan adanya gesekan antara pendekatan baru Mas Pur dan struktur birokrasi yang sudah terbentuk sebelumnya.

Dalam organisasi sebesar Kementerian Keuangan, perubahan pejabat, kebijakan, dan mekanisme kerja memang dapat menimbulkan perbedaan pandangan. Kementerian tersebut memiliki peran sangat besar dalam penerimaan negara, perpajakan, bea dan cukai, pengelolaan utang, belanja negara, serta kebijakan fiskal.

Namun, klaim spesifik mengenai jumlah pejabat yang diganti atau adanya konflik personal tertentu perlu dibedakan dari fakta yang sudah dikonfirmasi. Tanpa dokumen resmi atau keterangan pihak terkait, dugaan bahwa perubahan birokrasi tertentu secara langsung memicu pencopotan tidak dapat diperlakukan sebagai fakta.

Yang jelas, gaya Mas Pur memang relatif berbeda dan lebih vokal dibandingkan citra Menteri Keuangan yang biasanya sangat berhati-hati dalam menyampaikan kebijakan. Perubahan gaya komunikasi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam mengevaluasi masa jabatannya, tetapi bukan berarti otomatis menjadi penyebab pencopotan.

5. Anggaran MBG dan Hubungan dengan Kebijakan Fiskal

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG menjadi salah satu bagian paling menarik dalam pembahasan mengenai Mas Pur. Pasalnya, Mas Pur beberapa kali berbicara mengenai efisiensi anggaran program tersebut.

Pada awal 2026, anggaran MBG disebut berada di sekitar Rp330 triliun. Kemudian dilakukan efisiensi hingga kisaran Rp260 triliun dan kembali turun menjadi sekitar Rp240 triliun. Pada awal September 2026, Mas Pur bahkan mengatakan anggaran tersebut masih berpeluang ditekan hingga di bawah Rp200 triliun melalui efisiensi dan penggunaan teknologi.

Mas Pur juga menyampaikan bahwa Kementerian Keuangan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan MBG melalui pegawai di daerah yang memantau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi secara bergilir.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Mas Pur memang memberikan perhatian besar terhadap efisiensi anggaran MBG. Namun, sekali lagi, tidak ada pernyataan resmi yang menyatakan bahwa kebijakan efisiensi MBG merupakan alasan Presiden mencopotnya.

Hubungan antara kebijakan fiskal dan program prioritas pemerintah memang menjadi persoalan penting. Menteri Keuangan harus menjaga agar program prioritas tetap memiliki pendanaan, tetapi pada saat yang sama harus mempertimbangkan kemampuan anggaran negara.

Anggaran MBG dari Rp330 Triliun hingga Berpotensi di Bawah Rp200 Triliun

Perubahan angka anggaran MBG menunjukkan bahwa efisiensi bukan sekadar isu yang muncul. Mas Pur sendiri secara terbuka membahas kemungkinan mengurangi anggaran program tersebut. Pada 3 September 2026, ia mengatakan anggaran tahun berjalan yang semula sekitar Rp330 triliun telah turun melalui beberapa tahap efisiensi dan masih dapat ditekan lebih jauh.

Pada 8 September, Mas Pur juga menyampaikan bahwa serapan MBG hingga akhir 2026 diperkirakan maksimal sekitar Rp240 triliun dan masih berpotensi lebih rendah.

Karena pernyataan tersebut muncul hanya beberapa hari sebelum pergantian Menteri Keuangan, wajar apabila publik kemudian menghubungkan keduanya. Akan tetapi, hubungan waktu tidak cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat.

6. Dugaan Korupsi Tidak Boleh Dianggap sebagai Fakta Tanpa Bukti

Bagian paling serius adalah dugaan mengenai kemungkinan keterlibatan Mas Pur dalam persoalan korupsi. Tuduhan korupsi terhadap seorang pejabat publik merupakan persoalan serius yang harus didasarkan pada bukti dan proses hukum. Dugaan, rumor, atau kemungkinan politik tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan seseorang melakukan tindak pidana.

Tidak terdapat informasi resmi yang menyatakan bahwa Mas Pur dicopot karena terbukti melakukan korupsi. Pemerintah ketika mengumumkan pergantian Menteri Keuangan juga tidak menyebut dugaan korupsi sebagai alasan resmi. Istana hanya menyebut pergantian menteri sebagai hal yang lumrah, sedangkan penggantinya mendapatkan mandat untuk menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara.

7. Hubungan Mas Pur dengan Danantara

Faktor lain yang dibahas adalah hubungan antara Kementerian Keuangan dan Danantara. Terdapat dugaan bahwa Mas Pur dan Danantara memiliki perbedaan kepentingan dalam pengelolaan sumber daya keuangan negara.

Persoalan tersebut menarik karena Danantara memiliki posisi strategis dalam pengelolaan aset dan investasi negara. Kementerian Keuangan sendiri memiliki tanggung jawab besar dalam pengelolaan fiskal. Ketika dua institusi dengan kepentingan ekonomi yang besar memiliki pandangan berbeda, komunikasi dan koordinasi menjadi sangat penting.

Namun, klaim bahwa konflik dengan Danantara menjadi salah satu alasan resmi Mas Pur dicopot belum dikonfirmasi pemerintah. Karena itu, konflik tersebut lebih tepat dibahas sebagai salah satu hipotesis yang muncul dalam analisis publik.

Kebijakan Penempatan Rp200 Triliun dan Warisan Mas Pur

Salah satu kebijakan Mas Pur yang cukup menonjol adalah penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di bank-bank milik negara. Kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan likuiditas perbankan dan mendorong penyaluran kredit.

Setelah Mas Pur dicopot, kebijakan penempatan dana tersebut tidak langsung dihentikan. Reuters melaporkan pada 18 September 2026 bahwa Kementerian Keuangan akan mempertahankan kebijakan penempatan dana Rp200 triliun di bank-bank negara hingga Juli 2027.

Fakta tersebut penting karena menunjukkan bahwa pergantian menteri tidak otomatis berarti seluruh kebijakan menteri sebelumnya dibatalkan. Ada kebijakan yang tetap dianggap relevan dan diteruskan oleh pemerintahan berikutnya.

Evaluasi terhadap Mas Pur sebaiknya tidak hanya melihat kontroversi selama masa jabatannya, tetapi juga melihat kebijakan apa saja yang dianggap masih layak diteruskan setelah ia tidak lagi menjadi Menteri Keuangan.

Apa Sebenarnya Alasan Mas Pur Dicopot?

Jika pertanyaannya adalah apakah pemerintah sudah mengumumkan tujuh alasan resmi Mas Pur dicopot, jawabannya tidak. Tujuh poin diatas merupakan kerangka analisis mengenai berbagai kemungkinan faktor yang dianggap berkontribusi terhadap pergantian tersebut.

Fakta yang tersedia saat ini jauh lebih sederhana. Prabowo mengganti Mas Pur pada 14 September 2026. Pemerintah tidak mengumumkan satu alasan spesifik. Penggantinya mendapat mandat menjaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara. Sementara itu, laporan Reuters menyebut pergantian terjadi ketika pemerintah menghadapi kekhawatiran investor, tekanan terhadap kredibilitas fiskal, serta persoalan ekonomi lainnya.

Mas Pur sendiri mengaku kecewa tetapi mengatakan bahwa dirinya sebagian sudah memperkirakan kemungkinan pencopotan karena adanya perbedaan pandangan dengan sejumlah pejabat. Pernyataan tersebut memberikan perspektif langsung dari mantan Menteri Keuangan, tetapi tetap tidak mengungkap satu alasan resmi yang dinyatakan Presiden.

Mengapa Pergantian Menteri Keuangan Bisa Berdampak pada Ekonomi Indonesia?

Menteri Keuangan memiliki posisi yang sangat strategis karena bertanggung jawab atas kebijakan fiskal, penerimaan negara, belanja pemerintah, pembiayaan, dan berbagai instrumen pengelolaan keuangan negara. Pergantian pejabat pada posisi tersebut dapat diperhatikan oleh pasar karena investor ingin mengetahui apakah arah kebijakan ekonomi akan berubah.

Reuters melaporkan bahwa pergantian Mas Pur terjadi di tengah kekhawatiran mengenai kredibilitas kebijakan fiskal dan ketidakpastian ekonomi. Penggantinya kemudian menyatakan komitmennya menjaga disiplin fiskal dan kredibilitas keuangan negara.

Namun, dampak pergantian menteri tidak hanya bergantung pada sosok Menteri Keuangan. Keputusan Presiden, arah kebijakan pemerintah, kondisi global, kebijakan Bank Indonesia, harga komoditas, investasi, konsumsi masyarakat, serta perkembangan geopolitik juga ikut menentukan kondisi ekonomi Indonesia.

Penggantinya Menghadapi Tantangan Ekonomi yang Tidak Ringan

Pergantian Mas Pur tidak membuat persoalan ekonomi otomatis selesai. Menteri Keuangan baru tetap menghadapi sejumlah target yang kompleks. Pemerintah ingin meningkatkan pertumbuhan, mempertahankan program prioritas, menjaga defisit, meningkatkan investasi, dan pada saat yang sama mempertahankan kepercayaan pasar.

Penggantinya memiliki pengalaman panjang di lingkungan Kementerian Keuangan dan sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan. Setelah dilantik, ia mendapat arahan Presiden untuk menjaga kesehatan serta kredibilitas keuangan negara.

Reuters juga melaporkan bahwa penggantinya berkomitmen mempertahankan disiplin fiskal dan batas defisit anggaran maksimal 3 persen dari produk domestik bruto sesuai ketentuan.

Artinya, tantangan Menteri Keuangan baru bukan sekadar mengisi kursi yang ditinggalkan Mas Pur. Ia harus mengelola keseimbangan antara target pertumbuhan ekonomi dan kemampuan fiskal negara.

Prediksi Politik Tidak Sama dengan Fakta Ekonomi

Salah satu pelajaran penting adalah perlunya membedakan prediksi dengan informasi faktual. Prediksi dapat dibangun berdasarkan pola politik, data ekonomi, pengalaman, atau intuisi, tetapi tetap memiliki kemungkinan salah.

Hal tersebut juga berlaku untuk prediksi mengenai masa depan ekonomi Indonesia. Misalnya, seseorang dapat memperkirakan pertumbuhan akan meningkat, nilai tukar menguat, atau sebuah kebijakan akan berhasil. Namun, hasil akhirnya baru dapat diketahui setelah data aktual tersedia.

Dalam kasus Mas Pur, pergantian memang terjadi dalam rentang waktu yang dibicarakan sebelumnya, tetapi hal tersebut tidak membuktikan seluruh prediksi lain mengenai alasan, kejadian lanjutan, ataupun masa depan politik Indonesia.

Pertanyaan mengapa Mas Pur dicopot dari Menteri Keuangan sampai sekarang tidak memiliki satu jawaban resmi yang merinci seluruh faktor penyebabnya. Presiden Prabowo mengganti Mas Pur dengan Penggantinya Nazara pada 14 September 2026, tetapi pemerintah tidak mengumumkan alasan spesifik yang dapat digunakan untuk mengonfirmasi tujuh dugaan sebagaimana dibahas dalam video Guru Gembul.

Mengajukan sejumlah kemungkinan, mulai dari popularitas Mas Pur, perbedaan pendekatan ekonomi, komunikasi yang terlalu optimistis, kebijakan agresif di Kementerian Keuangan, efisiensi anggaran MBG, dugaan persoalan hukum, hingga hubungan dengan Danantara. Sebagian isu tersebut memang berhubungan dengan kebijakan atau pernyataan Mas Pur yang dapat diverifikasi, tetapi hubungan langsungnya dengan pencopotan belum terbukti.

Salah satu fakta yang menarik adalah beberapa kebijakan Mas Pur tetap berlanjut setelah pergantian menteri. Kebijakan penempatan dana Rp200 triliun di bank-bank negara, misalnya, masih dipertahankan hingga Juli 2027. Sementara itu, efisiensi anggaran MBG memang pernah secara terbuka dibahas Mas Pur, termasuk kemungkinan menekan anggaran di bawah Rp200 triliun.

Membaca pergantian Mas Pur membutuhkan kehati-hatian. Ada fakta mengenai pergantian jabatan, ada data mengenai kondisi ekonomi, ada pernyataan langsung dari pihak terkait, dan ada pula analisis politik yang mencoba menghubungkan berbagai peristiwa. Keempat hal tersebut tidak selalu memiliki tingkat kepastian yang sama.

Dengan memisahkan fakta, analisis, prediksi, dan dugaan, pembahasan mengenai Mas Pur dicopot sebagai Menteri Keuangan menjadi lebih mudah dipahami tanpa harus langsung menerima satu teori sebagai jawaban final.

Comments

Popular posts from this blog

Cara Cepat Mahir Mengetik 10 Jari Tanpa Melihat Keyboard – Wajib Tahu Buat Pelamar Call Center & Fresh Graduate!

Cuma butuh dua minggu latihan konsisten buat bisa ngetik lancar 10 jari tanpa perlu melototin keyboard. Tapi entah kenapa, sampai sekarang masih banyak pelamar lowongan call center yang ngetiknya kayak burung pelatuk—pakai dua jari sambil nunduk. Padahal, skill ngetik ini jadi senjata utama kalau kerja di dunia pelayanan pelanggan. Gak Bisa Ngetik Cepat? Segera Perbaiki Kalau Gak Mau Ketinggalan Zaman Kamu bisa aja jago ngomong, tapi kalau pas input data ngetiknya setengah jam untuk satu kalimat, siap-siap bikin pelanggan frustasi. Nah, biar gak ketinggalan dan ditinggal recruiter, yuk simak cara belajar touch typing yang cepat, gratis, dan 100% bisa dilakukan siapa aja—even yang gaptek sekalipun. Kenapa Skill Mengetik Itu Penting Buat CS dan Job Online Lainnya? Di dunia kerja digital sekarang, kecepatan dan ketepatan adalah segalanya. Gak cuma buat call center, tapi juga buat virtual assistant, admin remote, customer service e-commerce, bahkan freelance data entry. Semuanya butuh skil...

Nyamankah dengan Gaji Customer Service Call Center Indonesia 2025

Gaji agent call center di Indonesia, apalagi yang baru mulai, memang terasa cukup nyaman buat hidup sendiri. Bisa bayar kos, jajan boba tiap minggu, bahkan kadang nyicil HP baru. Tapi jangan salah, hidup itu dinamis. Kerja Call Center Bisa Bikin Mandiri, Tapi Bukan Tempat Menetap Selamanya Maka dari itu, kalau sekarang masih betah kerja sebagai customer service, mulailah siapkan rencana keluar dari industri ini, dan bangun skill baru sedini mungkin. Cerita di Tengah: Dari Gaji Harian di Mall ke Gaji Bulanan yang Bikin Merasa “Kaya Raya” Tahun 2013, seorang anak muda umur 20 tahun kerja di mall, dibayar cuma per hari. Bisa dibilang pas-pasan buat sekadar bertahan hidup. Tapi semuanya berubah waktu dia pindah ke dunia call center. Begitu terima gaji pertamanya, rasanya kayak menang undian. Pendapatannya langsung naik dua kali lipat. Rasanya hidup jadi lebih cerah. Tapi cerita gak berhenti di sana. Gaji besar di awal bisa bikin terlena. Banyak yang merasa cukup, padahal tantangan hidup ma...

Kesalahan Grammar yang Bikin Malu: Bedain “Your” vs “You’re” dan “Its” vs “It’s”, Yuk!

  Kalau kamu masih asal tulis your dan you’re, atau sering tukar-tukar antara its dan it’s, jangan kaget kalau kamu dihakimi diam-diam sama pembaca atau rekruter. Iya, sesederhana itu bisa bikin kredibilitas ambyar. Tapi kabar baiknya: ini gampang banget dipelajari, asal kamu paham polanya. Pahami Dulu Fungsi Tersembunyi dari Tanda Apostrof Kita mulai dari si kecil yang suka bikin bingung: apostrof (‘). Kalau ada apostrof di kata you’re dan it’s, berarti itu kontraksi, alias gabungan dari dua kata. You’re = You are Contoh: You’re reckless → You are reckless It’s = It is atau It has Contoh: It’s raining → It is raining Contoh lain: It’s been amazing → It has been amazing Jadi setiap ketemu apostrof, coba ubah ke bentuk aslinya. Masuk akal? Berarti benar. Aneh? Salah besar. Kalau Gak Ada Apostrof, Artinya Itu Kepemilikan Sekarang kebalikannya, kalau kamu lihat your dan its tanpa apostrof, itu berarti menunjukkan kepemilikan. Your sister → saudarimu Its requirements → persyaratannya (...