Jauh sebelum istilah investasi tambang Papua, eksploitasi sumber daya alam, atau kontrak karya pertambangan dikenal luas, masyarakat pegunungan Papua menjalani kehidupan yang sangat berbeda dari dunia modern saat ini. Mereka tidak mengenal jam kerja, target bulanan, atau rutinitas kantor yang mengikat. Kehidupan berjalan mengikuti ritme alam, bukan kalender. Ketika membutuhkan makanan, mereka berburu atau mengumpulkan hasil hutan. Saat sakit, mereka mencari tanaman obat yang tumbuh di sekitar tempat tinggal. Alam bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan bagian dari identitas mereka sendiri. Gunung dianggap sebagai ibu yang memberi kehidupan, sedangkan sungai dipandang sebagai sumber yang menopang keberlangsungan generasi demi generasi. Dalam pandangan masyarakat adat, keseimbangan jauh lebih penting daripada eksploitasi. Mereka mengambil seperlunya dan menjaga agar lingkungan tetap lestari. Namun, keseimbangan itu perlahan berubah ketika orang-orang asing mulai muncul di wilayah yan...
Ketika publik dikejutkan oleh dugaan mega korupsi yang disebut menyebabkan kerugian negara hingga Rp300 triliun, perhatian masyarakat langsung tertuju pada sejumlah nama yang muncul dalam persidangan. Namun di tengah derasnya arus informasi di media sosial, muncul pandangan bahwa fokus publik justru bergeser ke pihak yang dianggap bukan aktor utama dalam keseluruhan skema. Banyak komentar publik yang lebih sibuk membahas figur tertentu, kehidupan pribadi, hingga keluarganya. Sementara itu, pertanyaan yang lebih mendasar mengenai bagaimana praktik tersebut bisa berlangsung dalam waktu lama justru dinilai belum mendapat perhatian yang proporsional. Inilah yang kemudian memunculkan kritik bahwa arah diskusi publik telah bergeser dari substansi utama perkara. Fakta Kerugian Negara dalam Kasus Korupsi Timah Berdasarkan informasi yang beredar dalam proses hukum, angka kerugian yang mencapai Rp300 triliun berasal dari beberapa komponen berbeda. Kerugian tersebut tidak hanya berkaitan dengan t...