Telorisme sering kali dibayangkan sebagai persoalan yang hanya berkaitan dengan kekerasan, senjata, atau kelompok tertentu. Padahal, sebelum seseorang sampai pada tindakan ekstrem, biasanya terdapat proses panjang yang memengaruhi cara berpikir, cara memandang kelompok lain, serta cara menilai ancaman terhadap identitas yang diyakininya. memahami psikologi seseorang yang terpapar radikalisme menjadi bagian penting dalam melihat persoalan telorisme secara lebih menyeluruh. Salah satu kisah yang menjadi pembuka pembahasan adalah sosok yang disebut pernah memiliki prestasi akademik yang sangat tinggi dan dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang sains, matematika, serta astronomi. Latar belakang tersebut membuat keterlibatannya dengan ISIS menjadi sesuatu yang mengejutkan. Kisah semacam ini sekaligus menunjukkan bahwa anggapan bahwa telorisme hanya lahir dari kebodohan atau kemiskinan tidak selalu dapat menjelaskan seluruh fenomenanya. Kisah RM dan Fenomena Orang Berpendidi...
Perbedaan pemikiran sering kali dianggap sebagai alasan yang cukup untuk menjaga jarak, bahkan tidak jarang berkembang menjadi permusuhan. Padahal, dalam kehidupan sosial yang dipenuhi beragam latar belakang, perbedaan merupakan sesuatu yang hampir mustahil dihindari. Orang dapat memiliki pemahaman agama, pengalaman hidup, pendidikan, pilihan politik, hingga cara membaca persoalan yang berbeda. Persoalannya bukan semata-mata apakah perbedaan itu ada, melainkan bagaimana seseorang menyikapinya tanpa kehilangan kemampuan untuk berdialog. Mengapa Perbedaan Pendapat dalam Islam Tidak Semestinya Menjadi Permusuhan? Dalam banyak perdebatan publik, persoalan utama justru muncul ketika seseorang lebih sibuk menentukan kelompok lawan daripada memahami argumentasinya. Perbedaan pandangan mengenai suatu persoalan kemudian berkembang menjadi penilaian terhadap pribadi, keluarga, latar belakang, bahkan leluhur seseorang. Padahal, tidak semua hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi memiliki hubu...


