Pendidikan Indonesia sering kali dibicarakan dari sisi yang mudah terlihat. Ketika kemampuan akademik siswa dianggap belum memuaskan, pembahasan biasanya segera mengarah pada kurikulum, kualitas guru, fasilitas sekolah, pemerataan akses, hingga besarnya anggaran pendidikan. Semua persoalan tersebut memang penting, tetapi ada satu bagian yang kerap luput dari perhatian: mentalitas masyarakat terhadap ilmu pengetahuan. Bangunan sekolah dapat diperbaiki. Perangkat pembelajaran bisa diperbarui. Kurikulum dapat diganti. Bahkan anggaran pendidikan dapat ditingkatkan secara besar-besaran. Namun, seluruh usaha tersebut berpotensi tidak memberikan hasil maksimal apabila masyarakat masih memiliki kebiasaan menganggap bertanya sebagai kesalahan, mempertanyakan pendapat tokoh sebagai tindakan tidak sopan, atau menerima suatu informasi hanya karena disampaikan oleh seseorang yang dianggap memiliki kedudukan tertentu. Dalam konteks masalah pendidikan Indonesia saat ini, persoalannya bukan semata-mat...
Kisah Gorr dalam semesta Marvel bukan sekadar cerita mengenai tokoh yang memburu dan membunuh para dewa. Di balik kekerasan yang dilakukan oleh karakter tersebut terdapat sebuah pertanyaan yang jauh lebih tua daripada komik, film, maupun kebudayaan modern: jika Tuhan benar-benar ada, mengapa penderitaan tetap berlangsung? Pertanyaan semacam ini membawa pembahasan menuju wilayah filsafat agama, teologi, antropologi, bahkan cara manusia membentuk gambaran tentang sosok yang dianggap sebagai pencipta alam semesta. Gorr menarik untuk dibahas karena ia tidak sejak awal merupakan sosok yang membenci keberadaan Tuhan. Justru sebaliknya, ia pernah menjadi makhluk yang percaya kepada dewa. Ia berdoa, berharap, dan menggantungkan kehidupan kepada kekuatan yang diyakininya lebih tinggi daripada dirinya. Namun, rangkaian tragedi yang dialaminya membuat keyakinan tersebut perlahan runtuh. Kematian orang-orang terdekat, penderitaan yang tidak kunjung berhenti, serta kondisi kehidupan yang begitu bur...