Masuknya seorang tokoh yang selama bertahun-tahun dikenal kritis terhadap pemerintah ke dalam lingkungan kekuasaan hampir selalu memunculkan perdebatan. Dalam politik Indonesia, perubahan posisi semacam itu dapat dilihat dari berbagai sudut. Ada yang menganggapnya sebagai kesempatan untuk berkontribusi secara langsung terhadap negara, sementara pihak lain melihatnya sebagai ujian terhadap konsistensi prinsip yang selama ini dibangun di hadapan publik. Perdebatan sebenarnya tidak harus dimulai dari pertanyaan apakah seorang pengamat boleh masuk pemerintahan. Tentu saja boleh. Seorang akademisi, aktivis, pengusaha, tokoh masyarakat, maupun pengamat politik memiliki hak untuk menerima atau menolak posisi tertentu di pemerintahan. Bahkan, keterlibatan seseorang yang sebelumnya berada di luar kekuasaan dapat menghasilkan perspektif baru yang bermanfaat. Hal yang jauh lebih menarik untuk dibahas adalah persoalan konsistensi. Ketika seseorang sebelumnya membangun identitas sebagai pengkritik ...
Istilah mentalitas budak dalam kehidupan modern terdengar keras, bahkan mungkin membuat sebagian orang langsung merasa tersinggung. Padahal, istilah tersebut tidak sedang membicarakan status seseorang sebagai budak dalam pengertian sejarah, melainkan pola pikir ketika seseorang terlalu bergantung pada perintah, pengakuan, perlindungan, atau keputusan pihak lain. Seseorang dapat hidup dalam masyarakat yang bebas, memiliki pendidikan tinggi, mempunyai pekerjaan, bahkan mempunyai penghasilan sendiri, tetapi tetap mengalami kesulitan menentukan apa yang harus dilakukan ketika tidak ada orang lain yang memberikan instruksi. Kebebasan akhirnya terasa seperti beban karena tidak ada lagi komando yang bisa diikuti. Persoalan tersebut menarik karena kehidupan modern sebenarnya memberikan ruang yang jauh lebih luas untuk mengambil keputusan sendiri. Teknologi membuat seseorang dapat belajar dari berbagai sumber, internet membuka kesempatan membangun usaha, informasi tersedia dalam jumlah besar, d...


