Gelar honoris causa kembali menjadi bahan perbincangan ketika seorang tokoh terkenal memperoleh penghargaan akademik dari sebuah perguruan tinggi. Perdebatan mengenai gelar doktor kehormatan di Indonesia sebenarnya bukan perkara baru. Jauh sebelum kontroversi terbaru mencuat, kalangan akademisi telah lama mempertanyakan bagaimana sebuah gelar kehormatan seharusnya diberikan, siapa yang benar-benar layak menerimanya, serta batas antara penghargaan atas kontribusi dengan kepentingan nonakademik. Secara sederhana, honoris causa diberikan kepada seseorang yang tidak menempuh jenjang akademik sebagaimana mahasiswa pada umumnya, tetapi dinilai memiliki kontribusi penting dalam bidang tertentu. Seseorang dapat dianggap pantas memperoleh gelar tersebut karena karya, pemikiran, inovasi, kepemimpinan, atau kontribusinya terhadap masyarakat dinilai memberikan dampak yang signifikan. Dengan demikian, gelar ini semestinya bukan sekadar tanda bahwa seseorang terkenal, kaya, memiliki jabatan, atau me...
Ada sesuatu yang menarik dari cara manusia memahami kejadian yang sulit dijelaskan. Ketika sebuah peristiwa tidak segera menemukan jawaban, sebagian orang akan mencari penjelasan melalui data, penelitian, penyelidikan, atau berbagai kemungkinan yang dapat diuji. Namun, sebagian lainnya justru merasa lebih nyaman dengan cerita yang terdengar misterius. Dari sinilah sebuah kejadian sederhana dapat berubah menjadi kisah horor, mitos, bahkan kepercayaan yang bertahan selama bertahun-tahun. Persoalan tersebut dikaitkan dengan berbagai fenomena di Indonesia, mulai dari makam yang dianggap keramat, cerita rumah berhantu, kendaraan yang disebut mengalami teleportasi, hingga berkembangnya industri yang memanfaatkan kepercayaan terhadap hal-hal mistis. Gagasan utamanya bukan sekadar membicarakan apakah suatu cerita benar atau salah, melainkan mempertanyakan bagaimana manusia seharusnya menyikapi sesuatu yang belum diketahui secara pasti. Salah satu contoh yang menjadi pembuka pembahasan adalah k...