Industri komik Indonesia pernah berada pada masa ketika nama komikus lokal memiliki tempat istimewa di tengah masyarakat. Buku cerita bergambar tidak hanya menjadi hiburan bagi anak-anak, tetapi juga dikonsumsi remaja hingga orang dewasa. Berbagai genre tersedia dengan mudah, mulai dari cerita silat, roman, kisah kepahlawanan, cerita humor, cerita anak, hingga adaptasi dari legenda dan kebudayaan Nusantara. Pada masa tersebut, komikus bukan sekadar pekerja kreatif di balik meja gambar. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan keadaan industri cergam lokal sekarang. Bakat menggambar masih ada, penulis cerita terus bermunculan, pembaca komik juga belum benar-benar hilang, tetapi ekosistem yang menghubungkan ketiganya mengalami persoalan serius. Komikus senior menghadapi masalah regenerasi dan penghargaan terhadap karya, sementara komikus baru harus berhadapan dengan biaya produksi, kecilnya oplah, sistem prapesan, distribusi yang terbatas, serta persaingan dengan produk hiburan dari dalam ...
Pembicaraan mengenai masyarakat Bali sering kali berhenti pada gambaran tentang keramahan, toleransi, budaya yang kuat, serta kehidupan pariwisata yang terbuka terhadap pendatang. Namun, di balik citra tersebut terdapat persoalan sosial yang jauh lebih kompleks. Ketika muncul pengalaman wisatawan yang merasa diperlakukan kurang ramah, cerita mengenai diskriminasi, atau tuduhan bahwa masyarakat tertentu bersikap eksklusif, pembahasannya sering langsung berubah menjadi perdebatan mengenai rasisme. Padahal, untuk memahami mengapa sentimen semacam itu dapat muncul, persoalannya tidak cukup dilihat dari perilaku individu. Ada sejarah, pengalaman sebagai kelompok minoritas, trauma kekerasan, perubahan sosial, persoalan identitas keagamaan, serta pengaruh pemberitaan yang ikut membentuk cara suatu komunitas memandang kelompok lain. Demikian pula, komentar warganet tidak dapat diperlakukan sebagai penelitian sosial yang mewakili keseluruhan populasi. Meski demikian, sentimen yang berulang teta...


