Ada kalanya seseorang tidak dihukum karena tidak mengetahui sesuatu, melainkan justru menderita karena mengetahui sesuatu yang belum mampu diterima oleh lingkungan di sekitarnya. Ia melihat kemungkinan yang tidak dilihat orang lain, mempertanyakan sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap selesai, lalu mencoba menunjukkan apa yang ditemukannya kepada masyarakat. Namun, alih-alih mendapatkan apresiasi, orang tersebut dapat dianggap aneh, sesat, pembangkang, bahkan berbahaya. Situasi seperti inilah yang menjadi inti dari perumpamaan manusia dalam gua yang sejak zaman Plato sering digunakan untuk menggambarkan hubungan antara pengetahuan, kenyataan, kebodohan, dan resistensi manusia terhadap perubahan. Kisah tersebut menjadi menarik apabila tidak hanya dipahami sebagai cerita filsafat kuno, tetapi digunakan untuk membaca kehidupan manusia pada zaman modern. Dunia hari ini dipenuhi teknologi, ilmu pengetahuan, kendaraan otomatis, komputer berkemampuan tinggi, eksplorasi luar angkasa, hin...


