Skip to main content

Pro dan Kontra Menghidupkan Kembali Penembakan Misterius di Indonesia

Apakah Indonesia akan lebih aman jika operasi penembakan misterius (Petrus) diterapkan kembali? Pertanyaan ini terus muncul setiap kali masyarakat merasa frustrasi terhadap kriminalitas, premanisme, hingga aksi ormas yang meresahkan.

Namun sebelum terburu-buru menyetujui gagasan tersebut, penting memahami bagaimana sejarah kelam itu bermula dan apa konsekuensinya bagi negara hukum.

Ketika Preman Ditemukan Tewas: Awal Mula Operasi Petrus Tahun 1983

Tanggal 20 Maret 1983, Yogyakarta diguncang kabar tragis. Seorang perempuan tewas setelah mobilnya dipepet dan diserang di jalan sepi saat mempersiapkan pernikahan. Peristiwa ini memicu kemarahan publik karena korban disebut sebagai anak pejabat daerah.

Lima hari kemudian, seorang ketua geng ditembak mati secara misterius. Ia dikenal sebagai residivis dan pemimpin kelompok preman. Awalnya banyak yang menduga pembunuhan itu akibat konflik antar geng.

Namun situasi berubah drastis ketika rentetan tembakan kembali terdengar pada awal April 1983. Pagi harinya, mayat-mayat bergelimpangan ditemukan di trotoar dan perempatan. Ciri mereka serupa: bertato, wajah rusak akibat kekerasan, dan dikenal sebagai bagian dari jaringan preman.

Pada 5 April 1983, pimpinan setempat mengeluarkan pernyataan keras agar para kriminal menyerahkan diri atau akan “dijemput paksa”. Sejarawan kemudian menandai periode ini sebagai tonggak resmi dimulainya operasi Petrus di Yogyakarta.

Lokasi Angker yang Ternyata Tempat Pembuangan Korban Petrus

Menariknya, praktik ini tidak hanya terjadi di Yogyakarta. Beberapa wilayah yang dikenal angker ternyata memiliki cerita berbeda di balik reputasinya.

Di kawasan Cadas Pangeran, Gunung Gelap, hingga Bukit Soeharto, masyarakat kerap menemukan mayat tanpa identitas. Wilayah-wilayah tersebut sebenarnya memiliki tingkat kriminalitas rendah.

Belakangan terungkap bahwa tempat-tempat itu diduga menjadi lokasi pembuangan korban penembakan misterius. Karena jauh dari pusat kejahatan, identitas korban sering kali tak terlacak.

Sebaliknya, di daerah dengan kriminalitas tinggi, eksekusi dilakukan secara terbuka dan demonstratif. Penangkapan disaksikan keluarga, dan jasad ditemukan keesokan harinya di ruang publik. Tujuannya jelas: efek gentar.

Operasi Petrus Orde Baru: Stabilitas atau Pelanggaran HAM?

Dalam narasi resmi, operasi ini disebut sebagai upaya menciptakan rasa aman. Di masa pemerintahan Soeharto, stabilitas dianggap prioritas utama.

Namun persoalan muncul karena tidak adanya proses pengadilan. Tanpa mekanisme hukum yang transparan, siapa pun bisa menjadi sasaran berdasarkan laporan sepihak.

Sejumlah kisah menyebutkan bahwa ada orang yang masuk daftar target bukan karena terbukti bersalah, melainkan akibat konflik politik lokal, dendam pribadi, atau persaingan ekonomi. Bahkan ada cerita tentang aktivis, ustaz, hingga warga biasa yang menghilang tanpa proses hukum jelas.

Jumlah korban pun tidak pernah pasti. Ada yang menyebut ratusan, ada pula yang memperkirakan ribuan hingga puluhan ribu.

Bahaya Sistem Hukuman Tanpa Pengadilan bagi Negara Hukum

Banyak yang berpendapat bahwa jika sasaran Petrus benar-benar penjahat, maka kebijakan itu dapat dimaklumi. Masalahnya terletak pada siapa yang memegang kendali dan bagaimana verifikasi dilakukan.

Sistem tanpa pengadilan memang cepat dan praktis. Tetapi justru karena itulah risiko salah sasaran menjadi sangat besar. Dalam negara hukum, keadilan tidak hanya soal menghukum yang bersalah, tetapi juga melindungi yang tidak bersalah.

Bayangkan jika laporan palsu dapat berujung pada hilangnya nyawa. Dalam kondisi seperti itu, sistem bisa berubah menjadi alat balas dendam.

Demokrasi, Monarki, dan Mental Penegak Hukum

Perdebatan sering terjebak pada sistem: apakah perlu pendekatan keras, hukuman mati, atau operasi khusus. Padahal yang lebih krusial adalah kualitas manusia yang menjalankan sistem tersebut.

Demokrasi atau monarki tidak otomatis menjamin keadilan. Semua bergantung pada integritas pemimpin dan aparatnya. Jika aparat dapat disuap, maka sistem paling ideal pun bisa disalahgunakan.

Begitu pula dengan gagasan menghidupkan kembali Petrus untuk memberantas begal atau mafia tanah. Tanpa pengawasan ketat dan transparansi hukum, kebijakan tersebut berpotensi menjadi alat represi.

Refleksi: Perlukah Petrus Diterapkan Lagi di Indonesia?

Keinginan masyarakat akan keamanan adalah hal wajar. Ketika kriminalitas meningkat, muncul dorongan untuk mengambil langkah ekstrem. Namun sejarah 1983 menunjukkan bahwa pendekatan represif tanpa pengadilan menyisakan luka panjang.

Alih-alih fokus pada sistem yang tampak tegas, perhatian seharusnya diarahkan pada reformasi mental, integritas aparat, serta penguatan proses hukum yang adil dan transparan.

Keamanan memang penting, tetapi keadilan tidak boleh dikorbankan. Tanpa keadilan, stabilitas hanya bersifat semu.

Comments

Popular posts from this blog

Kesalahan Grammar yang Bikin Malu: Bedain “Your” vs “You’re” dan “Its” vs “It’s”, Yuk!

  Kalau kamu masih asal tulis your dan you’re, atau sering tukar-tukar antara its dan it’s, jangan kaget kalau kamu dihakimi diam-diam sama pembaca atau rekruter. Iya, sesederhana itu bisa bikin kredibilitas ambyar. Tapi kabar baiknya: ini gampang banget dipelajari, asal kamu paham polanya. Pahami Dulu Fungsi Tersembunyi dari Tanda Apostrof Kita mulai dari si kecil yang suka bikin bingung: apostrof (‘). Kalau ada apostrof di kata you’re dan it’s, berarti itu kontraksi, alias gabungan dari dua kata. You’re = You are Contoh: You’re reckless → You are reckless It’s = It is atau It has Contoh: It’s raining → It is raining Contoh lain: It’s been amazing → It has been amazing Jadi setiap ketemu apostrof, coba ubah ke bentuk aslinya. Masuk akal? Berarti benar. Aneh? Salah besar. Kalau Gak Ada Apostrof, Artinya Itu Kepemilikan Sekarang kebalikannya, kalau kamu lihat your dan its tanpa apostrof, itu berarti menunjukkan kepemilikan. Your sister → saudarimu Its requirements → persyaratannya (...

Cara Cepat Mahir Mengetik 10 Jari Tanpa Melihat Keyboard – Wajib Tahu Buat Pelamar Call Center & Fresh Graduate!

Cuma butuh dua minggu latihan konsisten buat bisa ngetik lancar 10 jari tanpa perlu melototin keyboard. Tapi entah kenapa, sampai sekarang masih banyak pelamar lowongan call center yang ngetiknya kayak burung pelatuk—pakai dua jari sambil nunduk. Padahal, skill ngetik ini jadi senjata utama kalau kerja di dunia pelayanan pelanggan. Gak Bisa Ngetik Cepat? Segera Perbaiki Kalau Gak Mau Ketinggalan Zaman Kamu bisa aja jago ngomong, tapi kalau pas input data ngetiknya setengah jam untuk satu kalimat, siap-siap bikin pelanggan frustasi. Nah, biar gak ketinggalan dan ditinggal recruiter, yuk simak cara belajar touch typing yang cepat, gratis, dan 100% bisa dilakukan siapa aja—even yang gaptek sekalipun. Kenapa Skill Mengetik Itu Penting Buat CS dan Job Online Lainnya? Di dunia kerja digital sekarang, kecepatan dan ketepatan adalah segalanya. Gak cuma buat call center, tapi juga buat virtual assistant, admin remote, customer service e-commerce, bahkan freelance data entry. Semuanya butuh skil...

Nyamankah dengan Gaji Customer Service Call Center Indonesia 2025

Gaji agent call center di Indonesia, apalagi yang baru mulai, memang terasa cukup nyaman buat hidup sendiri. Bisa bayar kos, jajan boba tiap minggu, bahkan kadang nyicil HP baru. Tapi jangan salah, hidup itu dinamis. Kerja Call Center Bisa Bikin Mandiri, Tapi Bukan Tempat Menetap Selamanya Maka dari itu, kalau sekarang masih betah kerja sebagai customer service, mulailah siapkan rencana keluar dari industri ini, dan bangun skill baru sedini mungkin. Cerita di Tengah: Dari Gaji Harian di Mall ke Gaji Bulanan yang Bikin Merasa “Kaya Raya” Tahun 2013, seorang anak muda umur 20 tahun kerja di mall, dibayar cuma per hari. Bisa dibilang pas-pasan buat sekadar bertahan hidup. Tapi semuanya berubah waktu dia pindah ke dunia call center. Begitu terima gaji pertamanya, rasanya kayak menang undian. Pendapatannya langsung naik dua kali lipat. Rasanya hidup jadi lebih cerah. Tapi cerita gak berhenti di sana. Gaji besar di awal bisa bikin terlena. Banyak yang merasa cukup, padahal tantangan hidup ma...