Psikologi Premanisme di Indonesia

Sebelum manusia mengenal konflik sosial, sejarah kehidupan telah lebih dulu mencatat mekanisme persaingan alamiah sejak era organisme paling sederhana. Reproduksi, seleksi alam, hingga kemunculan peran jantan dalam sistem biologis membentuk pola dasar: yang paling kuat bertahan, yang paling unggul melanjutkan generasi.

Asal Usul Naluri Kompetitif

Di sinilah benih naluri kompetitif laki-laki mulai terbentuk, jauh sebelum konsep peradaban, negara, atau sistem sosial dikenal.

Evolusi Perilaku Laki-Laki dan Dorongan Testosteron

Dorongan untuk bersaing bukan sekadar konstruksi sosial, melainkan bagian dari struktur biologis, terutama dipengaruhi oleh hormon testosteron. Hormon ini mendorong keberanian, agresivitas, hasrat menang, dan kecenderungan untuk mendominasi dalam hierarki sosial.

Naluri tersebut dapat menghasilkan prestasi luar biasa, tetapi juga berpotensi melahirkan perilaku destruktif bila tidak diarahkan dengan tepat.

Kewirausahaan, Risiko, dan Mentalitas Kompetisi Ekstrem

Dunia wirausaha sering menjadi arena pertarungan mental yang keras. Tekanan, kegagalan, kompetisi pasar, serta risiko kehilangan status sosial menjadikan dunia bisnis sebagai medan seleksi modern.

Tidak mengherankan bila sebagian besar wirausahawan kelas atas berasal dari kalangan laki-laki, karena karakter kompetitif, ketahanan mental, dan kesiapan menghadapi konflik menjadi modal utama dalam dunia tersebut.

Namun, dorongan ini ibarat pedang bermata dua:

  • Jika tersalurkan dengan baik → menghasilkan pemimpin, inovator, dan pengusaha sukses
  • Jika terhambat dan tertekan → berpotensi melahirkan perilaku agresif dan premanisme

Akar Premanisme dari Perspektif Psikologi Sosial

Premanisme tidak selalu lahir dari niat jahat sejak awal. Dalam banyak kasus, ia berakar dari dorongan kompetitif yang gagal menemukan saluran konstruktif.

Ketika seorang laki-laki sejak kecil:

  • Diremehkan
  • Dibully
  • Tidak diakui prestasinya
  • Dihancurkan rasa percaya dirinya

Maka naluri bersaing berubah menjadi kemarahan, frustrasi, dan kebutuhan untuk membuktikan diri melalui kekerasan.

Dari sinilah muncul sosok yang mencari validasi lewat dominasi fisik, ancaman, dan konflik jalanan.

Dari Arena Prestasi ke Arena Kekerasan

Secara ideal, naluri bersaing dapat diarahkan ke:

  • Olahraga profesional
  • Seni bela diri
  • Balap resmi
  • Akademik
  • Karier bisnis
  • Prestasi sosial

Namun ketika akses tersebut tertutup, muncul substitusi yang berbahaya:

  • Balapan liar
  • Tawuran
  • Pemalakan
  • Kekerasan jalanan
  • Pencarian konflik tanpa tujuan

Fenomena ini bukan sekadar kriminalitas, tetapi cermin dari kebutuhan kompetisi yang gagal terwadahi.

Perbedaan Respons Tekanan antara Laki-Laki dan Perempuan

Tekanan psikologis tidak selalu menghasilkan reaksi yang sama. Dalam banyak pengamatan sosial:

  • Perempuan yang tertekan cenderung menarik diri, menjadi pendiam, atau mengalami kecemasan
  • Laki-laki yang tertekan lebih rentan menjadi frontal, agresif, dan konfrontatif

Hal ini berkaitan erat dengan perbedaan hormonal, pola sosialisasi, dan mekanisme pelampiasan emosi.

Studi Kasus Perilaku Atlet, Ego, dan Depresi Kompetitif

Dalam dunia olahraga profesional, sering terlihat bagaimana ambisi untuk menang dapat menjadi bahan bakar prestasi, sekaligus sumber kehancuran mental ketika mengalami kekalahan telak.

Kekalahan besar dapat menimbulkan:

  • Depresi
  • Ledakan emosi
  • Perilaku impulsif
  • Penurunan performa
  • Pencarian pelampiasan negatif

Fenomena ini menunjukkan bahwa kegagalan mengelola dorongan kompetisi dapat berdampak luas pada karakter dan perilaku seseorang.

Premanisme sebagai Produk Lingkungan yang Gagal Mengakomodasi Potensi

Preman bukan hanya hasil dari pilihan individu, tetapi juga produk lingkungan sosial yang gagal mengarahkan energi maskulin secara sehat.

Jika sejak dini kompetisi diarahkan ke jalur:

  • Prestasi
  • Kepemimpinan
  • Tanggung jawab sosial

Maka energi yang sama dapat melahirkan pelindung masyarakat, pemimpin komunitas, dan agen perubahan positif.

Peran Organisasi Masyarakat dalam Menekan Premanisme

Organisasi sosial, komunitas kepemudaan, dan institusi masyarakat memiliki potensi besar untuk:

  • Mengalihkan agresi ke aktivitas produktif
  • Membina kedisiplinan
  • Menyalurkan semangat kompetisi ke arah yang bermanfaat
  • Menekan budaya kekerasan jalanan

Melawan premanisme bukan hanya tentang penindakan, tetapi juga memahami akar psikologis dan sosialnya.

Mengelola Energi Maskulin untuk Membangun Masyarakat yang Lebih Sehat

Energi kompetitif laki-laki bukanlah musuh. Ia adalah sumber daya besar jika diarahkan dengan benar.

Kuncinya terletak pada:

  • Pendidikan karakter sejak dini
  • Ruang kompetisi yang adil
  • Pengakuan prestasi
  • Lingkungan yang tidak merendahkan
  • Arah hidup yang jelas

Dengan pendekatan ini, naluri bersaing dapat berubah dari sumber konflik menjadi mesin kemajuan.

Memahami, Bukan Sekadar Menghakimi

Premanisme bukan hanya soal kriminalitas, tetapi juga tentang psikologi, lingkungan, hormon, dan kegagalan sistem sosial dalam menyalurkan potensi manusia.

Memahami akar masalah membuka jalan menuju solusi yang lebih efektif, lebih manusiawi, dan lebih berkelanjutan — bukan hanya bagi individu, tetapi bagi masa depan masyarakat secara keseluruhan.

Comments

Popular posts from this blog

Kesalahan Grammar yang Bikin Malu: Bedain “Your” vs “You’re” dan “Its” vs “It’s”, Yuk!

Cara Cepat Mahir Mengetik 10 Jari Tanpa Melihat Keyboard – Wajib Tahu Buat Pelamar Call Center & Fresh Graduate!

Nyamankah dengan Gaji Customer Service Call Center Indonesia 2025