Kejanggalan Diplomasi Indonesia pada Dewan Perdamaian Gaza

Di saat gencatan senjata diumumkan dan dunia berharap pada stabilitas kawasan, justru serangan kembali terjadi di Gaza. Situasi ini memunculkan satu pertanyaan besar: apa manfaat Dewan Perdamaian Gaza jika konflik tetap berlanjut? 

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika sejumlah negara, termasuk Indonesia, memutuskan untuk bergabung dalam Board of Peace Amerika Serikat, sebuah lembaga yang diklaim bertujuan menciptakan perdamaian di Gaza.

Alih-alih menghadirkan optimisme, pembentukan dewan ini justru memunculkan banyak tanda tanya, terutama terkait komposisi anggotanya, tujuan jangka panjang, serta implikasinya terhadap kemerdekaan Palestina.

Keputusan Indonesia Bergabung dengan Board of Peace

Keputusan Presiden untuk bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza dinilai sebagai langkah diplomatik strategis. Dalam pidatonya, Presiden menekankan bahwa ini merupakan peluang bersejarah untuk mendorong perdamaian serta menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap solusi dua negara bagi Palestina dan Israel.

Namun, di balik pernyataan tersebut, muncul kejanggalan mendasar. Jika Indonesia konsisten mendukung kemerdekaan Palestina, mengapa justru bergabung dengan lembaga yang diprakarsai oleh Amerika Serikat, negara yang selama ini dikenal paling keras menolak pengakuan penuh terhadap Palestina di forum internasional, termasuk di PBB?

Board of Peace Amerika Serikat dan Minimnya Representasi Palestina

Salah satu kritik utama terhadap Dewan Perdamaian Amerika Serikat adalah komposisi anggotanya. Negara-negara yang tergabung di dalamnya mayoritas dikenal pro-Israel, sementara Palestina tidak memiliki representasi resmi dalam forum tersebut.

Negara-negara besar yang selama ini vokal mendukung Palestina—seperti Rusia, Tiongkok, Prancis, Spanyol, dan beberapa negara Eropa—tidak terlihat dalam struktur utama dewan ini. Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa inisiatif perdamaian Gaza lebih condong pada kepentingan satu pihak, bukan menjadi ruang netral untuk rekonsiliasi dua belah pihak yang bertikai.

Proyek Gaza Riviera: Perdamaian atau Agenda Bisnis?

Di balik wacana perdamaian, muncul bocoran proyek ambisius bernama Gaza Riviera, sebuah rencana untuk mengubah Gaza menjadi kawasan wisata dan resort kelas dunia, menyerupai Dubai. Proyek ini dikabarkan melibatkan investor besar dari Amerika Serikat dan Israel, termasuk perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan Donald Trump dan lingkaran bisnisnya.

Kritik tajam muncul karena Gaza sebelumnya mengalami kehancuran besar akibat konflik. Alih-alih fokus pada pemulihan kemanusiaan dan hak politik rakyat Palestina, proyek ini dinilai lebih menyerupai agenda properti dan ekspansi ekonomi, bukan murni upaya perdamaian.

Kejanggalan Board of Peace dalam Konflik Israel-Palestina

Jika tujuan utama dewan ini adalah menengahi konflik Israel-Palestina, maka ketiadaan Palestina dalam struktur resminya menjadi anomali besar. Dalam konsep perdamaian yang ideal, kedua pihak harus dilibatkan secara setara. Tanpa kehadiran Palestina, bagaimana mungkin proses mediasi dapat berjalan adil?

Lebih mengkhawatirkan lagi, muncul laporan bahwa salah satu agenda yang dibahas adalah relokasi warga Gaza, sebuah langkah yang berpotensi menimbulkan krisis kemanusiaan baru dan bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia.

Mengapa Tidak Melalui PBB? Alternatif yang Dipertanyakan

Selama puluhan tahun, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menjadi forum utama dalam isu Palestina. Banyak resolusi telah disepakati secara global, namun kerap terhambat oleh hak veto Amerika Serikat.

Alih-alih memperkuat jalur multilateral PBB, pembentukan organisasi tandingan seperti Board of Peace menimbulkan kecurigaan bahwa inisiatif ini lebih bersifat politis daripada kemanusiaan. Apalagi jika mayoritas anggotanya berasal dari blok negara yang memiliki kepentingan strategis dengan Israel.

Biaya Partisipasi Indonesia: 17 Triliun dan Prioritas Nasional

Salah satu aspek paling kontroversial adalah kabar bahwa Indonesia harus mengeluarkan dana hingga Rp17 triliun untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza. Angka ini dinilai sangat besar, terutama ketika Indonesia masih menghadapi kebutuhan pembangunan domestik, termasuk rekonstruksi daerah terdampak bencana dan penguatan sektor sosial.

Muncul pertanyaan krusial: apakah kontribusi dana tersebut benar-benar berdampak pada perdamaian, atau justru memperkuat proyek bisnis asing di Gaza?

Donald Trump sebagai Pemimpin Board of Peace: Risiko Kekuasaan Tanpa Batas

Keunikan lain dari Board of Peace Amerika Serikat adalah struktur kepemimpinannya. Donald Trump disebut memiliki posisi sentral dengan masa jabatan yang tidak dibatasi secara jelas, bahkan berpotensi tetap memimpin meskipun tidak lagi menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa dewan tersebut dapat berubah menjadi alat politik personal, bukan lembaga multilateral yang netral dan transparan.

Serangan di Tengah Gencatan Senjata: Di Mana Peran Dewan Perdamaian?

Ironisnya, setelah penandatanganan keanggotaan Board of Peace, serangan terhadap Gaza kembali terjadi, termasuk ke wilayah pengungsian sipil. Hal ini memicu pertanyaan tajam mengenai efektivitas Dewan Perdamaian Gaza.

Jika serangan tetap berlangsung, lalu apa fungsi konkret lembaga ini? Apakah dewan tersebut benar-benar memiliki otoritas moral dan politik untuk menekan agresi, atau sekadar menjadi simbol tanpa dampak nyata?

Perdamaian yang Dipertanyakan

Pada akhirnya, Board of Peace Amerika Serikat menghadirkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Dari minimnya representasi Palestina, potensi agenda bisnis Gaza Riviera, hingga biaya besar yang harus ditanggung negara anggota, semua aspek tersebut menimbulkan kejanggalan serius dalam narasi perdamaian Gaza.

Jika tujuan utamanya adalah menciptakan perdamaian yang adil dan berkelanjutan, maka keterlibatan semua pihak—termasuk Palestina—serta transparansi agenda menjadi syarat mutlak. Tanpa itu, Dewan Perdamaian berisiko hanya menjadi instrumen geopolitik dan ekonomi, bukan jalan keluar dari konflik berkepanjangan.

Comments

Popular posts from this blog

Kesalahan Grammar yang Bikin Malu: Bedain “Your” vs “You’re” dan “Its” vs “It’s”, Yuk!

Cara Cepat Mahir Mengetik 10 Jari Tanpa Melihat Keyboard – Wajib Tahu Buat Pelamar Call Center & Fresh Graduate!

Nyamankah dengan Gaji Customer Service Call Center Indonesia 2025