Kenapa Pencak Silat Sulit Masuk UFC dan MMA Global?
Pencak silat sering dipertanyakan: mengapa silat tidak populer di UFC, MMA, atau turnamen bela diri internasional? Jawabannya tidak sesederhana soal kekuatan teknik. Akar persoalan justru berada pada definisi, sistem kompetisi, narasi publik, dan cara silat diposisikan secara budaya maupun institusional.
Silat dalam Sorotan Global: Antara Realitas dan Mitos
Di ruang publik, silat kerap diasosiasikan dengan hal-hal yang sulit diverifikasi secara ilmiah, mulai dari kanuragan ekstrem hingga demonstrasi ketahanan fisik yang tidak logis. Konten-konten semacam ini, terutama di media sosial, justru memperkuat stigma negatif dan menjadikan silat bahan olok-olokan di luar negeri.
Akibatnya, citra silat di mata komunitas MMA internasional menjadi kabur dan kurang kredibel.
Kenapa Teknik Silat Jarang Terlihat di Octagon?
Dalam dunia MMA, teknik yang dipertandingkan harus terukur, bisa diuji, dan sesuai dengan aturan keselamatan. Banyak demonstrasi silat yang berfokus pada aspek simbolik atau spiritual tidak dapat diadaptasi ke dalam sistem kompetisi profesional. Hal ini membuat silat sulit diintegrasikan ke format pertandingan MMA modern, berbeda dengan muay thai, judo, atau taekwondo yang memiliki struktur kompetisi global yang konsisten.
Salah Kaprah Definisi: Silat Bukan Satu Aliran Bela Diri
Salah satu akar masalah terbesar adalah anggapan bahwa silat merupakan satu aliran tunggal. Padahal, secara historis, silat adalah istilah umum untuk bela diri, bukan satu gaya spesifik.
Di Indonesia sendiri terdapat ratusan bahkan ribuan variasi bela diri tradisional, masing-masing dengan karakteristik berbeda—mulai dari fokus senjata, teknik kuncian, serangan vital, hingga strategi pertarungan jarak dekat.
Keberagaman Aliran Silat Tradisional Indonesia
Jika setiap suku memiliki budaya, bahasa, dan adat yang unik, maka logis bila setiap daerah juga memiliki gaya bela diri yang berbeda. Namun, dalam praktiknya, banyak kompetisi nasional hanya mengakomodasi satu format aturan, sehingga aliran-aliran lain terpinggirkan dan perlahan menghilang.
Sistem Pertandingan yang Menghapus Keunikan
Aturan pertandingan nasional sering kali tidak kompatibel dengan variasi teknik tradisional.
Beberapa aliran yang berfokus pada bantingan, kuncian lantai, serangan kepala, atau penggunaan senjata tidak dapat tampil optimal karena aturan hanya mendukung teknik tertentu.
Dalam jangka panjang, hal ini menghilangkan keberagaman bela diri Nusantara dan menyederhanakan silat menjadi satu bentuk yang sempit.
Peran Media dan Influencer dalam Membentuk Persepsi
Citra silat juga terpengaruh oleh konten sensasional yang menampilkan klaim berlebihan, seperti menghancurkan benda keras atau demonstrasi yang ternyata manipulatif.
Alih-alih mengangkat silat sebagai seni bela diri strategis dan realistis, konten semacam ini justru merusak kredibilitas silat di mata publik internasional.
Tawuran Berkedok Silat: Dampak Sosial yang Memperburuk Reputasi
Selain konten sensasional, fenomena konflik kelompok yang mengatasnamakan perguruan silat juga memperburuk citra. Ironisnya, dalam konflik tersebut, teknik silat jarang digunakan.
Hal ini memperkuat anggapan bahwa silat lebih sering dikaitkan dengan konflik sosial daripada prestasi olahraga.
Tantangan Pemerintah dalam Pengembangan Silat Nasional
Kebijakan yang terlalu terpusat pada satu format kompetisi turut berkontribusi pada stagnasi silat. Alih-alih merawat keberagaman aliran, pendekatan yang seragam justru menghambat inovasi dan adaptasi silat di tingkat global.
Bandingkan dengan Muay Thai, Judo, dan Taekwondo
Negara lain memosisikan seni bela diri sebagai identitas nasional yang terus dikembangkan.
- Thailand mengangkat muay thai sebagai kebanggaan budaya sekaligus olahraga profesional.
- Korea Selatan mempopulerkan taekwondo secara global.
- Jepang mengembangkan judo dengan struktur akademik dan kompetisi internasional.
Sementara itu, silat belum memiliki ekosistem global yang terorganisir secara kuat.
Minimnya Riset Akademik tentang Silat Indonesia
Publikasi ilmiah mengenai silat masih sangat terbatas, bahkan sebagian ditulis oleh peneliti asing. Kurangnya dokumentasi akademik membuat silat sulit dipromosikan sebagai seni bela diri yang sistematis dan ilmiah di kancah internasional.
Masa Depan Silat sebagai Seni Bela Diri Global
Agar silat dapat berkembang secara internasional, dibutuhkan:
- Pengakuan terhadap keberagaman aliran
- Standarisasi kompetisi yang inklusif
- Dokumentasi akademik yang kuat
- Promosi budaya yang realistis dan profesional
- Adaptasi teknik silat ke format olahraga modern
Kritik sebagai Bentuk Kepedulian terhadap Silat
Membahas kelemahan silat bukan berarti merendahkan warisan budaya. Justru sebaliknya, kritik yang konstruktif dapat menjadi langkah awal untuk mengangkat silat ke level global sebagai seni bela diri yang dihormati, bukan disalahpahami.
Jika dikelola dengan tepat, silat berpotensi menjadi simbol kekuatan budaya Indonesia di dunia internasional—sejajar dengan bela diri global lainnya, namun tetap mempertahankan jati diri Nusantara.

Comments
Post a Comment