Telorisme sering kali dibayangkan sebagai persoalan yang hanya berkaitan dengan kekerasan, senjata, atau kelompok tertentu. Padahal, sebelum seseorang sampai pada tindakan ekstrem, biasanya terdapat proses panjang yang memengaruhi cara berpikir, cara memandang kelompok lain, serta cara menilai ancaman terhadap identitas yang diyakininya. memahami psikologi seseorang yang terpapar radikalisme menjadi bagian penting dalam melihat persoalan telorisme secara lebih menyeluruh.
Salah satu kisah yang menjadi pembuka pembahasan adalah sosok yang disebut pernah memiliki prestasi akademik yang sangat tinggi dan dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam bidang sains, matematika, serta astronomi. Latar belakang tersebut membuat keterlibatannya dengan ISIS menjadi sesuatu yang mengejutkan. Kisah semacam ini sekaligus menunjukkan bahwa anggapan bahwa telorisme hanya lahir dari kebodohan atau kemiskinan tidak selalu dapat menjelaskan seluruh fenomenanya.
Kisah RM dan Fenomena Orang Berpendidikan yang Terpapar Ekstremisme
RM disebut berangkat dari Indonesia menuju Pakistan dan kemudian pergi ke Suriah pada sekitar 2015 untuk bergabung dengan ISIS. Organisasi tersebut pada masa itu berupaya membangun kekuasaan yang mereka klaim sebagai negara kekhalifahan di bawah kepemimpinan Abu Bakr al-Baghdadi.
Hal yang membuat kisah tersebut menarik adalah latar belakang pendidikan dan kemampuan intelektual RM. Ia berasal dari Trenggalek, tetapi memiliki pengalaman mengikuti berbagai kompetisi sains di sejumlah tempat. Prestasi dalam bidang matematika dan astronomi membuat dirinya dipandang sebagai seseorang dengan kemampuan intelektual tinggi.
Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan besar. Jika seseorang mempunyai kemampuan akademik yang sangat baik, mengapa ia masih dapat tertarik kepada ideologi ekstrem? Pertanyaan tersebut penting karena kecerdasan akademik ternyata tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap propaganda, fanatisme kelompok, atau cara berpikir ekstrem.
Dalam cerita yang beredar, RM juga dikaitkan dengan lingkungan pengajian yang membahas gagasan tertentu mengenai khilafah. Dari sinilah kemudian muncul dugaan mengenai bagaimana ideologi dapat memengaruhi cara seseorang memandang dunia, identitas, kelompok lain, serta konsep perjuangan.
Kisah tersebut juga menggambarkan sisi tragis perjalanan seseorang yang masuk ke medan konflik. Ia dikabarkan kehilangan salah satu kakinya dalam pertempuran di Suriah dan kemudian melarikan diri ke kawasan Afrika Utara. Kabar mengenai keberadaannya kemudian menjadi tidak jelas hingga muncul informasi bahwa dirinya telah meninggal dalam kondisi yang mengenaskan.
Terlepas dari berbagai detail individual yang mungkin membutuhkan verifikasi tersendiri, kisah tersebut memberikan satu pelajaran penting: radikalisme tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan tingkat pendidikan atau kecerdasan seseorang.
Tujuh Tahap Seseorang Bisa Terjerumus ke Dalam telorisme
Dalam pembahasan mengenai psikologi telorisme, proses seseorang menuju ekstremisme dapat dipahami sebagai rangkaian tahapan. Tidak berarti setiap orang yang melewati satu tahap otomatis menjadi teloris. Sebaliknya, berbagai faktor tersebut dapat saling berinteraksi dan semakin memperkuat pola pikir ekstrem apabila berlangsung secara terus-menerus.
Tahapan ini lebih tepat dipahami sebagai kerangka untuk melihat bagaimana seseorang dapat bergerak dari keterikatan ideologis menuju pembenaran terhadap kekerasan.
1. Mencintai Ideologi Secara Fundamental
Tahap pertama adalah munculnya keyakinan yang sangat kuat terhadap suatu ideologi. Ideologi tersebut bisa berkaitan dengan agama maupun gagasan politik atau sosial lainnya.
Meyakini agama secara mendalam tentu bukan sesuatu yang otomatis bermasalah. Demikian pula seseorang yang memiliki pandangan politik tertentu tidak berarti memiliki kecenderungan menjadi teloris. Persoalannya muncul ketika keyakinan tersebut berubah menjadi identitas yang dianggap mutlak dan tidak boleh dipertanyakan sama sekali.
Dalam kondisi tertentu, seseorang tidak lagi sekadar menjalankan nilai yang diyakininya, tetapi mulai menganggap ideologinya sebagai bagian utama dari harga dirinya. Akibatnya, kritik terhadap ideologi dipersepsikan sebagai serangan terhadap dirinya sendiri.
Pada titik inilah hubungan antara identitas kelompok dan radikalisme mulai menjadi penting.
2. Merasa Menjadi Bagian dari Komunitas yang Memiliki Identitas Sama
Keyakinan pribadi kemudian dapat berkembang menjadi identitas komunal. Seseorang mulai merasa bahwa dirinya bukan sekadar individu, melainkan bagian dari kelompok besar yang mempunyai nilai, simbol, dan kepentingan bersama.
Rasa memiliki terhadap komunitas sebenarnya merupakan kebutuhan manusia yang sangat normal. Masalah dapat muncul apabila identitas kelompok tersebut berkembang menjadi pembatas yang sangat tegas antara "kami" dan "mereka".
Semakin kuat pembagian tersebut, semakin mudah seseorang melihat kelompok sendiri sebagai pihak yang benar dan kelompok lain sebagai pihak yang salah. Solidaritas yang awalnya positif perlahan dapat berubah menjadi loyalitas yang tidak kritis.
Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi dalam komunitas keagamaan. Berbagai ideologi, organisasi politik, gerakan sosial, bahkan kelompok penggemar pun dapat mempunyai mekanisme identitas kelompok yang serupa, meskipun konsekuensinya tentu berbeda.
Mengapa Pola Pikir Hitam Putih Berbahaya?
Tahap berikutnya berkaitan dengan cara seseorang memproses informasi. Salah satu karakteristik yang dapat muncul dalam pemikiran ekstrem adalah pola pikir biner, yakni kecenderungan melihat persoalan hanya melalui dua kategori yang berlawanan.
Benar atau salah. Teman atau musuh. Baik atau jahat. Membela kelompok atau mengkhianatinya.
Padahal, kehidupan sosial jauh lebih rumit daripada dua kategori tersebut. Seseorang dapat memiliki sebagian pendapat yang benar dan sebagian lainnya keliru. Sebuah kelompok juga tidak selalu sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk.
Ketika kemampuan melihat nuansa semakin hilang, seseorang akan lebih mudah menerima narasi sederhana yang menjelaskan persoalan kompleks dengan satu penyebab tunggal.
Itulah sebabnya bahaya pola pikir hitam putih dalam radikalisme tidak boleh dianggap sepele. Pola tersebut membuat seseorang lebih mudah menerima propaganda yang membagi dunia menjadi dua kubu mutlak.
Namun, penting pula untuk berhati-hati dalam menyederhanakan penyebabnya. Cara berpikir biner tidak semata-mata dapat disebabkan oleh kecerdasan rendah ataupun gangguan mental. Pola pendidikan, lingkungan sosial, propaganda, pengalaman hidup, tekanan kelompok, dan berbagai faktor psikologis dapat ikut memengaruhinya.
3. Munculnya Pola Pikir Biner dan Penyederhanaan Realitas
Ketika seseorang mulai melihat dunia secara hitam-putih, berbagai kelompok lain akan lebih mudah diberi label. Seseorang mungkin mulai mengategorikan orang berdasarkan organisasi, aliran, identitas keagamaan, pandangan politik, atau simbol tertentu.
Alih-alih mencoba memahami seseorang sebagai individu, ia cukup memasukkannya ke dalam sebuah kotak identitas.
Cara berpikir semacam ini membuat dialog semakin sulit. Perbedaan pendapat tidak lagi dianggap sebagai perbedaan perspektif, melainkan sebagai bukti bahwa pihak lain merupakan musuh.
Dalam konteks radikalisme, kondisi tersebut menjadi berbahaya karena propaganda ekstremis biasanya memang bekerja dengan cara menyederhanakan realitas. Masalah sosial yang rumit dijelaskan melalui narasi sederhana: ada pihak yang dianggap menjadi korban dan ada pihak yang dianggap sebagai penyebab seluruh penderitaan.
4. Merasa Kelompoknya Sedang Ditindas
Tahap selanjutnya adalah munculnya persepsi bahwa kelompok sendiri sedang berada dalam ancaman.
Pada titik ini, seseorang tidak lagi sekadar mencintai kelompoknya. Ia mulai percaya bahwa kelompok tersebut sedang diserang, diperlakukan tidak adil, atau berusaha dihancurkan oleh pihak lain.
Perasaan sebagai korban dapat menjadi sangat kuat apabila seseorang terus-menerus mendapatkan informasi yang menampilkan penderitaan kelompoknya tanpa konteks yang seimbang.
Berbagai peristiwa kekerasan di berbagai belahan dunia kemudian dapat dipakai sebagai bukti bahwa kelompoknya memang sedang menjadi korban global.
Masalahnya, informasi tersebut bisa saja dipilih secara selektif. Seseorang hanya melihat kejadian yang mendukung keyakinannya dan mengabaikan fakta lain yang bertentangan dengan pandangan tersebut.
Fenomena ini menjelaskan mengapa propaganda playing victim dalam radikalisme dapat menjadi sangat efektif. Perasaan sebagai korban memberikan dasar emosional untuk membenarkan kemarahan.
Dari Rasa Terancam Menuju Keinginan Melakukan Perlawanan
Setelah seseorang merasa kelompoknya menjadi korban, biasanya muncul pertanyaan berikutnya: jika kelompok saya diserang, apa yang harus dilakukan?
Di sinilah proses radikalisasi dapat bergerak ke tahap yang lebih serius.
5. Merasa Harus Melakukan Perlawanan
Seseorang mulai berpikir bahwa dirinya mempunyai kewajiban untuk menyelamatkan kelompok atau ideologi yang diyakininya.
Perasaan tersebut dapat dibungkus dengan berbagai istilah, termasuk perjuangan, pembelaan, pengorbanan, atau jihad. Persoalannya bukan semata-mata pada istilah yang digunakan, melainkan bagaimana istilah tersebut ditafsirkan dan tindakan apa yang kemudian dianggap sah atas nama istilah tersebut.
Dalam masyarakat demokratis, terdapat perbedaan penting antara perjuangan sipil dan kekerasan. Perubahan sosial dapat diperjuangkan melalui pendidikan, penelitian, organisasi masyarakat, jalur hukum, kegiatan politik, pembangunan teknologi, karya intelektual, dan berbagai cara damai lainnya.
Namun, individu yang semakin terpapar ekstremisme dapat kehilangan kepercayaan terhadap mekanisme tersebut. Ia mulai menganggap tindakan fisik sebagai jalan yang lebih cepat untuk mencapai tujuan.
Di sinilah muncul hubungan antara rasa terancam dan tindakan telorisme.
6. Merasa Kalah, Terdesak, dan Kehilangan Harapan
Ironisnya, keyakinan untuk melakukan perlawanan dapat membawa seseorang kepada fase berikutnya, yaitu rasa kalah dan putus asa.
Ketika musuh yang dibayangkan jauh lebih kuat, sementara upaya yang dilakukan tidak menghasilkan kemenangan, seseorang dapat mengalami frustrasi mendalam.
Dalam pola pikir ekstrem, kekalahan tidak selalu menghasilkan evaluasi diri. Sebaliknya, kekalahan dapat dianggap sebagai bukti bahwa musuh memang terlalu kuat dan perjuangan harus dilakukan dengan cara yang semakin ekstrem.
Padahal, kekalahan dalam satu bidang tidak berarti seseorang harus meninggalkan seluruh perjuangannya. Jika sebuah bangsa tertinggal dalam teknologi, misalnya, jawaban rasional adalah meningkatkan penelitian dan pendidikan. Jika tertinggal dalam media, jawabannya adalah membangun media yang lebih baik. Jika tertinggal secara ekonomi, diperlukan pembangunan sistem ekonomi dan sumber daya manusia.
Perbedaan antara pendekatan konstruktif dan pendekatan ekstrem terletak pada cara menghadapi kegagalan.
Pendekatan konstruktif bertanya, "Apa yang harus diperbaiki?"
Pendekatan ekstrem justru dapat bertanya, "Siapa yang harus dihancurkan?"
Perbedaan kecil dalam cara bertanya tersebut dapat menghasilkan konsekuensi yang sangat besar.
7. Bersedia Melakukan Apa Pun Demi Ideologi
Tahap terakhir adalah ketika batas moral semakin runtuh dan seseorang mulai merasa bahwa tindakan apa pun dapat dibenarkan selama dianggap mendukung kelompok atau ideologinya.
Pada tahap ini, kekerasan dapat dipandang sebagai alat yang sah. Bahkan tindakan yang sebelumnya dianggap tidak dapat diterima dapat mengalami perubahan makna karena telah dibungkus oleh narasi perjuangan.
Inilah salah satu kondisi yang membuat telorisme menjadi sangat berbahaya. Pelaku tidak lagi melihat korban sebagai manusia dengan kehidupan dan keluarga, tetapi sebagai bagian dari kelompok yang dianggap sebagai musuh.
Dehumanisasi seperti ini membuat kekerasan lebih mudah dilakukan karena rasa empati terhadap korban semakin berkurang.
Apakah Agama Secara Otomatis Membuat Seseorang Menjadi teloris?
Pertanyaan ini penting karena pembahasan mengenai telorisme sering kali terjebak dalam kesimpulan yang terlalu sederhana.
Jawabannya adalah tidak. Memeluk agama tertentu tidak otomatis membuat seseorang menjadi teloris. Bahkan keyakinan agama yang kuat sekalipun tidak dengan sendirinya menghasilkan kekerasan.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana sebuah keyakinan dipahami, bagaimana identitas kelompok dibentuk, bagaimana seseorang memandang kelompok lain, dan apakah kekerasan mulai mendapatkan pembenaran.
Hal yang sama sebenarnya berlaku pada berbagai ideologi nonagama. Ideologi apa pun dapat mengalami proses fanatisasi apabila seseorang menganggap kelompoknya selalu benar, lawannya selalu salah, dan tindakan apa pun dapat dibenarkan untuk memenangkan kelompok sendiri.
cara mencegah radikalisme berbasis identitas tidak cukup hanya dengan meminta seseorang meninggalkan keyakinannya. Yang jauh lebih penting adalah membangun kemampuan berpikir kritis, menghargai perbedaan, memahami konteks sejarah, serta membedakan antara keyakinan pribadi dan pembenaran terhadap kekerasan.
Solidaritas Kelompok Tidak Selalu Berarti Radikalisme
Solidaritas merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Ketika seseorang merasa senang melihat orang lain dari kelompok yang sama mendapatkan keberhasilan, hal tersebut tidak otomatis menunjukkan ekstremisme.
Masalah muncul ketika solidaritas berubah menjadi pembenaran tanpa batas.
Misalnya, seseorang dapat mendukung korban perang karena alasan kemanusiaan. Namun, dukungan tersebut menjadi problematis apabila kemudian digunakan untuk membenarkan serangan terhadap orang yang tidak memiliki hubungan dengan konflik tersebut.
Dengan kata lain, solidaritas dan radikalisme memiliki batas yang harus dipahami. Solidaritas yang sehat tetap mempertahankan empati terhadap manusia lain, termasuk mereka yang berbeda identitas.
Mengapa Narasi Konspirasi Mudah Berkembang?
Salah satu pola yang sering muncul dalam pemikiran ekstrem adalah kecenderungan menjelaskan berbagai masalah melalui teori konspirasi.
Ketika ekonomi memburuk, seseorang mencari kelompok tertentu untuk disalahkan. Ketika pendidikan gagal, ada pihak lain yang dianggap sengaja membuat masyarakat tertinggal. Ketika kelompoknya kalah dalam persaingan, kekalahan tersebut dianggap sebagai hasil rekayasa musuh.
Cara berpikir semacam itu terasa nyaman karena memberikan jawaban sederhana terhadap persoalan yang sebenarnya rumit.
Padahal, masalah sosial biasanya memiliki banyak penyebab. Ekonomi dapat dipengaruhi kebijakan, produktivitas, pendidikan, teknologi, kondisi global, infrastruktur, kualitas institusi, dan banyak faktor lainnya. Pendidikan juga tidak dapat dijelaskan hanya dengan menunjuk satu negara atau kelompok sebagai dalang.
Ciri-ciri pola pikir konspiratif dalam radikalisme salah satunya adalah kecenderungan menghubungkan banyak kejadian berbeda ke dalam satu narasi besar tanpa bukti yang memadai.
Jalan Keluar dari Ekstremisme Bukan Kekerasan
Jika seseorang benar-benar ingin membela nilai atau keyakinan yang dianggap penting, masih ada banyak jalan yang jauh lebih produktif.
Pendidikan adalah salah satunya. Penelitian ilmiah merupakan bentuk perjuangan lain. Membangun teknologi, memperbaiki ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, mengembangkan institusi, memperkuat literasi, dan meningkatkan kualitas masyarakat juga merupakan kontribusi nyata.
Peradaban tidak dibangun hanya dengan kemarahan.
Peradaban dibangun melalui proses panjang yang membutuhkan ilmu, ketekunan, kreativitas, kerja sama, dan kemampuan menerima kritik.
Cara melawan ideologi ekstremisme secara damai bukan hanya dengan melarang atau menghukum. Masyarakat juga perlu menyediakan ruang bagi generasi muda untuk belajar berpikir kritis dan menyalurkan idealisme mereka melalui kegiatan yang produktif.
Seseorang yang memiliki keyakinan kuat tidak harus kehilangan keyakinannya agar dapat hidup berdampingan dengan orang lain. Yang perlu ditolak adalah gagasan bahwa keyakinan tersebut memberikan hak untuk merampas kehidupan orang lain.
Membangun Ilmu Pengetahuan sebagai Bentuk Perlawanan terhadap Radikalisme
Ada ironi besar dalam perjalanan sebagian orang yang menganggap dirinya sedang memperjuangkan sebuah peradaban. Mereka mungkin sangat marah melihat kelompoknya tertinggal, tetapi justru memilih jalan yang menghancurkan sumber daya manusia sendiri.
Jika sebuah masyarakat merasa tertinggal dalam ilmu pengetahuan, maka jawabannya adalah sekolah dan universitas yang lebih baik. Jika tertinggal dalam teknologi, diperlukan laboratorium, perusahaan teknologi, dan penelitian. Jika tertinggal dalam industri, diperlukan manufaktur dan tenaga ahli.
Perubahan seperti itu memang membutuhkan waktu. Tidak ada jalan instan untuk membangun peradaban.
Justru karena proses tersebut panjang, seseorang yang menginginkan hasil cepat dapat mudah tergoda oleh ideologi ekstrem yang menjanjikan solusi sederhana terhadap persoalan kompleks.
Di sinilah pendidikan kritis mempunyai peran penting. Masyarakat perlu belajar bahwa perubahan besar hampir selalu membutuhkan proses, bukan ledakan emosi sesaat.
Memahami Radikalisme Tanpa Menyederhanakan Persoalan
Kisah mengenai individu berpendidikan tinggi yang kemudian bergabung dengan organisasi teloris memberikan pelajaran bahwa telorisme tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu variabel. Kecerdasan, kemiskinan, pendidikan, agama, lingkungan sosial, propaganda, pengalaman hidup, identitas kelompok, serta kondisi politik dapat memiliki hubungan yang kompleks.
Membahas faktor penyebab seseorang menjadi radikal membutuhkan kehati-hatian. Tidak semua orang religius adalah ekstremis. Tidak semua orang yang memiliki ideologi kuat adalah radikal. Tidak semua orang yang merasa kelompoknya mengalami ketidakadilan akan melakukan kekerasan.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika berbagai pola tersebut mulai bertemu: identitas kelompok menjadi mutlak, pihak lain dianggap musuh, dunia dipahami secara hitam-putih, kelompok sendiri diposisikan sebagai korban permanen, kekerasan dianggap sebagai solusi, lalu batas moral semakin lama semakin hilang.
Persoalan telorisme bukan hanya tentang siapa yang memegang senjata. Persoalannya dimulai jauh sebelumnya, yaitu ketika seseorang mulai percaya bahwa manusia lain tidak lagi layak mendapatkan empati hanya karena berbeda kelompok.
Mencegah proses tersebut berarti membangun masyarakat yang mampu berpikir lebih kompleks, terbuka terhadap perbedaan, berani mengoreksi kesalahan kelompok sendiri, dan memiliki saluran yang sehat untuk memperjuangkan perubahan. Jika sebuah keyakinan ingin dibuktikan melalui kualitas peradaban, maka jalan yang paling kuat bukanlah kehancuran, melainkan pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, kebudayaan, serta pembangunan manusia yang berlangsung secara konsisten.




Comments
Post a Comment