Kontroversi Oknum dan Dampaknya terhadap Akidah Islam di Indonesia

Pembahasan mengenai Oknum dan pengaruhnya terhadap Islam Indonesia sering kali dipersempit seolah hanya menyangkut polemik sosial atau konflik kecil. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, isu ini menyentuh ranah yang jauh lebih fundamental, terutama pada aspek akidah, dakwah, dan cara berpikir umat. Inilah yang membuat topik ini terus relevan untuk dikaji secara kritis.

Perubahan Pola Dakwah

Jika ditarik ke belakang, sebelum era tertentu, dakwah Islam di Indonesia dikenal dengan pendekatan santun, rasional, dan mengedepankan akhlak. Namun, perubahan mulai terasa ketika muncul figur-figur yang menormalisasi bahasa kasar dalam dakwah Islam, disertai intimidasi, ancaman, bahkan pembenaran kekerasan.

Fenomena ini berdampak langsung pada persepsi publik. Islam yang sebelumnya dipahami sebagai rahmatan lil alamin perlahan diasosiasikan dengan sikap eksklusif dan permusuhan. Akibatnya, resistensi terhadap dakwah Islam moderat justru semakin menguat.

Klaim Spiritual yang Menggeser Tauhid

Dalam diskursus bahaya ajaran Oknum terhadap tauhid, terdapat satu pola yang menonjol, yaitu pengalihan ketergantungan spiritual. Umat diarahkan untuk menggantungkan harapan pada makam, foto, atau figur leluhur tertentu dengan janji penyelesaian masalah hidup.

Praktik seperti ini bukan sekadar persoalan tradisi, melainkan menyentuh inti ketauhidan. Meminta, berharap, dan menggantungkan hasil kepada selain Allah adalah pelanggaran prinsip dasar dalam Islam. Yang lebih mengkhawatirkan, klaim ini dibungkus dengan narasi agama dan disampaikan sebagai bentuk kecintaan.

Doktrin Keturunan Nabi dan Kekebalan Kritik

Terdapat tiga doktrin utama yang sering muncul: pengakuan sebagai keturunan Nabi, klaim kesucian moral, serta pelabelan negatif terhadap siapa pun yang mengkritik.

Dengan pola ini, kritik dianggap sebagai bentuk kebencian, bahkan disamakan dengan sifat iblis atau kebodohan awam. Akibatnya, ruang diskusi ilmiah tertutup, dan umat kehilangan tradisi tabayyun serta verifikasi yang menjadi ciri khas keilmuan Islam.

Propaganda Karamah dan Normalisasi Kebodohan

Cerita mengenai karamah luar biasa sering dijadikan alat legitimasi. Mulai dari kisah perjalanan spiritual berulang kali ke langit, hingga kemampuan menyelesaikan segala persoalan hanya dengan ziarah. Masalahnya, banyak klaim tersebut tidak memiliki landasan sejarah yang kuat.

Dalam konteks propaganda karamah habaib di media, kisah-kisah semacam ini kerap diulang tanpa kritik, sehingga kebohongan yang terus disebarkan akhirnya diterima sebagai fakta. Di sinilah pembodohan massal terjadi, karena umat lebih didorong untuk percaya tanpa berpikir.

Menjauhkan Umat dari Ulama yang Lurus

Dampak lain yang jarang disadari adalah upaya sistematis menjauhkan umat dari ulama yang mengajarkan sunah, logika, dan etika keilmuan. Ulama yang kritis dan rasional kerap dipinggirkan, sementara figur tertentu ditempatkan sebagai satu-satunya pintu keselamatan.

Narasi seperti “kedekatan dengan Oknum lebih utama daripada amal” perlahan menggeser orientasi ibadah. Hal ini berbahaya karena otoritas keagamaan menjadi terpusat pada figur, bukan pada ilmu dan dalil.

Pesantren, Pendidikan, dan Risiko Penyimpangan Akidah

Banyak orang tua berharap pesantren menjadi tempat membentuk karakter saleh. Namun, ketika lembaga pendidikan dipenuhi doktrin yang menyimpang, tujuan tersebut justru berbalik arah. Anak didik tidak lagi diajarkan ketergantungan kepada Allah, melainkan kepada simbol dan figur.

Dalam konteks risiko murtad akidah, persoalan ini tidak bisa dianggap sepele. Kerusakan pada level keyakinan jauh lebih berbahaya dibanding kesalahan pada aspek furu’ atau cabang agama.

Mengapa Kritik Dianggap Ancaman?

Setiap kritik sering dibalas dengan pelabelan negatif. Strategi ini efektif membungkam suara rasional dan menjaga dominasi narasi. Padahal, dalam tradisi Islam, kritik ilmiah adalah bagian dari menjaga kemurnian ajaran.

Ketika umat takut bertanya dan ragu berpikir, maka yang tersisa hanyalah kepatuhan buta. Inilah titik rawan yang membuat ajaran agama mudah dimanipulasi demi kepentingan kelompok.

Isu tentang Oknum dan dampaknya terhadap Islam bukan soal kebencian personal, apalagi urusan materi. Ini adalah persoalan menjaga akidah, rasionalitas, dan masa depan dakwah di Indonesia. Ketika klaim spiritual, kekebalan kritik, dan propaganda kebodohan dibiarkan, maka kerusakan tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga pada wajah Islam secara keseluruhan.

Membuka ruang diskusi kritis bukan berarti memusuhi agama, justru itulah bentuk kecintaan agar Islam tetap berdiri di atas tauhid, ilmu, dan akhlak.

Comments

Popular posts from this blog

Kesalahan Grammar yang Bikin Malu: Bedain “Your” vs “You’re” dan “Its” vs “It’s”, Yuk!

Cara Cepat Mahir Mengetik 10 Jari Tanpa Melihat Keyboard – Wajib Tahu Buat Pelamar Call Center & Fresh Graduate!

Nyamankah dengan Gaji Customer Service Call Center Indonesia 2025