Fenomena Ironi Beragama di Indonesia
Di Indonesia, terdapat satu narasi besar yang telah lama hidup dan diterima secara luas: semakin dekat seseorang dengan ulama, maka semakin dekat pula ia dengan kebenaran agama. Sebaliknya, menjauh dari ulama sering diasosiasikan dengan kesesatan. Namun, realitas sosial justru memperlihatkan wajah yang bertolak belakang.
Ironi ini menjadi bahan refleksi serius dalam diskursus fenomena keberagamaan di Indonesia, terutama ketika tudingan sesat justru lebih sering diarahkan kepada mereka yang aktif beragama dan dekat dengan tokoh-tokoh keislaman.
Tuduhan Sesat dalam Islam: Bukan Soal Moral, Tapi Afiliasi
Dalam praktik sosial, label “sesat” jarang muncul karena seseorang melakukan korupsi, zina, kekerasan, atau pelanggaran moral lainnya. Tuduhan tersebut justru kerap muncul karena afiliasi pemikiran dan kedekatan dengan ulama tertentu.
Seseorang dapat dikenal santun, berprestasi, dermawan, serta berkontribusi nyata bagi masyarakat. Namun, ketika ia dikaitkan dengan sosok ulama yang dianggap kontroversial oleh kelompok lain, maka seluruh kebaikannya seakan runtuh oleh satu label: sesat.
Sebaliknya, pelaku maksiat yang tidak menampilkan identitas keagamaan tertentu sering kali tidak pernah diseret dalam wacana kesesatan.
Daftar Ulama Kontemporer yang Pernah Dicap Menyimpang
Dalam sejarah dakwah modern Indonesia, banyak ulama dan dai yang pernah menerima tudingan serupa, meskipun tidak terlibat dalam tindakan kriminal apa pun. Di antaranya:
- Disebut menyimpang karena persoalan simbol personal
- Dikritik karena sikap moderat terhadap seni
- Dituding karena dikaitkan dengan mazhab tertentu
- Diserang karena pendekatan sufistik
- Dilabeli ekstrem karena identifikasi mazhab
- Disalahpahami karena pendekatan budaya dan sufisme
- Dikaitkan dengan liberalisme semata karena tafsir yang berbeda
Fenomena ini memperlihatkan bahwa perbedaan pemikiran dalam Islam sering kali lebih dipermasalahkan dibanding pelanggaran etika dan hukum.
Fanatisme Golongan dalam Agama
Akar dari fenomena ini adalah asabiyah dalam Islam, yaitu fanatisme kelompok yang berlebihan. Loyalitas bukan lagi pada nilai-nilai Al-Qur’an dan akhlak, melainkan pada identitas golongan.
Akibatnya:
- Kesalahan moral ditoleransi jika dilakukan oleh kelompok sendiri
- Perbedaan pemikiran dianggap ancaman
- Kritik dibalas dengan persekusi dan framing
Asabiyah inilah yang oleh banyak ulama klasik disebut sebagai penyakit paling berbahaya dalam kehidupan beragama.
Mengapa Negara Religius Justru Rentan Korupsi?
Fenomena serupa tidak hanya terjadi di Indonesia. Di banyak wilayah dengan tingkat religiusitas tinggi, justru muncul paradoks sosial:
- Korupsi struktural tinggi
- Pelanggaran HAM meningkat
- Kekerasan atas nama agama tumbuh subur
Hal ini terjadi karena agama dipersempit menjadi simbol dan identitas, bukan nilai. Fokus berpindah dari perbuatan ke pemikiran, dari akhlak ke label.
Perbuatan Nyata Diabaikan, Pemikiran Dipersoalkan
Seseorang dapat hidup jujur, tidak menyakiti siapa pun, dan mengajarkan perdamaian. Namun, ketika tafsirnya berbeda tentang satu isu fikih atau simbol, ia langsung disingkirkan.
Padahal, Islam tidak mengajarkan penghukuman atas pikiran, melainkan penilaian atas perbuatan. Perbedaan tafsir telah ada sejak zaman sahabat, dan tidak pernah dijadikan alasan untuk mengafirkan atau menyesatkan.
Ajaran Al-Qur’an yang Sering Dilupakan
Jika ditelusuri, nilai-nilai utama Al-Qur’an sangat sederhana dan membumi:
- Berlaku adil kepada semua manusia
- Menjaga lisan dan merendahkan suara
- Menghormati orang tua
- Tidak mencampuradukkan kebenaran dan kebohongan
- Menepati janji dan amanah
- Menjauhi riba dan korupsi
- Tidak mengikuti sesuatu secara membabi buta
Ironisnya, nilai-nilai ini sering kali kalah oleh debat identitas dan perang tafsir.
Kembali ke Al-Qur’an dan Sunah
Seruan untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunah seharusnya menjadi titik temu. Namun dalam realitas, seruan ini pun kerap dicurigai apabila tidak sesuai dengan tafsir kelompok tertentu.
Kebenaran seolah harus melewati satu pintu tafsir. Jika berbeda, meskipun dalilnya kuat, tetap dianggap menyimpang.
Siapa yang Sebenarnya Menjauhkan dari Agama?
Fenomena tudingan sesat kepada ulama dan orang-orang saleh justru membuat banyak masyarakat menjauh dari agama. Bukan karena Islam itu sulit, melainkan karena wajah agama dipenuhi konflik internal.
Selama fanatisme golongan lebih diutamakan daripada akhlak, selama pemikiran lebih dihakimi daripada perbuatan, maka ironi ini akan terus berulang.
Beragama seharusnya mendekatkan manusia pada nilai, bukan menjauhkannya melalui label dan tuduhan.

Comments
Post a Comment