Bisnis Kebencian di Indonesia: Fenomena Baru yang Mengancam Nalar Publik



Marah, kecewa, putus asa, dan rasa tidak adil yang dialami masyarakat. Emosi inilah yang kemudian berubah menjadi komoditas bernilai tinggi, diperdagangkan secara sistematis, rapi, dan sering kali tidak disadari oleh publik.

Ketika Konten Kritik Pemerintah Menjadi Mesin Cuan Digital

Dalam lanskap media sosial saat ini, konten kritik terhadap pemerintah terbukti memiliki daya dorong algoritmik yang luar biasa. Video dengan tema kritik, keresahan, atau kemarahan publik cenderung melonjak tajam dari sisi penonton, interaksi, dan distribusi platform.

Sebaliknya, konten edukasi seperti sejarah, sains, ekonomi, atau wawasan umum justru sering tenggelam. Bukan karena kualitasnya rendah, melainkan karena emosi tidak terlibat secara intens. Algoritma lebih menyukai kemarahan daripada pengetahuan, lebih menyukai konflik daripada refleksi.

Ancaman, Teror, dan Tawaran Bayaran kepada Kreator Konten

Tidak banyak yang mengetahui bahwa intimidasi terhadap konten kreator Indonesia jauh lebih luas daripada yang muncul di ruang publik. Sebagian memilih diam, sebagian lain menerima tekanan hukum, ancaman sosial, bahkan godaan finansial.

Ada kreator yang ditawari untuk:

  • Membuat narasi positif terkait bencana
  • Menyampaikan skrip tertentu demi membentuk opini publik
  • Menyerang instansi atau figur tertentu sesuai pesanan

Nilainya tidak kecil. Dalam beberapa kasus, bayaran disebutkan mencapai jutaan rupiah per detik berbicara. Di sinilah kemarahan publik berubah menjadi mata uang.

Perbedaan Kritik Moral dan Kebencian Terorkestrasi

Penting untuk membedakan kritik terhadap kejahatan pejabat dengan kebencian yang diorkestrasi. Kritik lahir dari cinta pada bangsa dan keinginan memperbaiki negara. Ia bersifat spesifik, berbasis fakta, dan mengarah pada perbaikan.

Sebaliknya, kebencian terorkestrasi diarahkan untuk:

  • Memicu keputusasaan kolektif
  • Mendorong narasi perpecahan
  • Mengaburkan pelaku utama kejahatan
  • Mengorbankan figur tertentu sebagai tumbal

Pada titik ini, publik tidak lagi berhadapan dengan kebenaran, melainkan dengan drama yang penuh sutradara.

Monetisasi Kemarahan Publik dalam Era Digital

Fenomena monetisasi kemarahan masyarakat bukan sekadar soal iklan atau AdSense. Ia adalah bisnis besar yang melibatkan:

  • Agensi opini publik
  • Jaringan buzzer profesional
  • Media dengan agenda tersembunyi
  • Kepentingan politik dan ekonomi

Kemarahan yang seharusnya menjadi energi perubahan justru diarahkan ke jalur buntu. Rakyat lelah, putus asa, lalu saling membenci. Sementara aktor utama kejahatan tetap berjalan tanpa sentuhan.

Penggiringan Opini dan Tumbal Publik

Dalam beberapa peristiwa nasional, kemarahan rakyat memang nyata dan sah secara moral. Namun, arah kemarahan sering kali dibelokkan. Figur yang diserang bukan pemegang kebijakan kunci, melainkan pihak yang mudah dikorbankan.

Polanya berulang:

  1. Isu besar muncul
  2. Emosi publik dipanaskan
  3. Satu figur dijatuhkan
  4. Publik merasa puas
  5. Aktor utama tetap aman

Inilah cara kerja bisnis kebencian berbasis pengalihan sasaran.

Peran Buzzer dan Rekayasa Emosi Kolektif

Keberadaan buzzer profesional bukan lagi rahasia. Mereka bekerja dengan:

  • Potongan video terpilih
  • Narasi emosional yang diulang
  • Pengarahan kolom komentar
  • Distribusi masif lintas platform

Emosi publik dinaikkan dan diturunkan seperti grafik saham. Fakta yang sejatinya kering dari emosi berubah menjadi drama besar yang penuh konflik.

Mengapa Separatisme dan Perpecahan Diuntungkan?

Saat kemarahan tidak lagi berorientasi pada perbaikan, ia berpotensi berubah menjadi keinginan merusak. Narasi putus asa seperti “bubar saja” atau “tidak ada harapan” justru menguntungkan:

  • Kelompok separatis
  • Mafia sumber daya
  • Kepentingan geopolitik tertentu

Padahal kemarahan awal muncul karena cinta pada Indonesia, bukan kebencian terhadap bangsa itu sendiri.

Cara Agar Kemarahan Tidak Dimonetisasi

Pertanyaan paling penting bukan apakah marah itu salah, melainkan mengapa marah itu muncul. Kemarahan yang lahir dari nilai moral tidak mudah dibeli. Sebaliknya, kemarahan egoistik sangat mudah dimonetisasi.

Indikator kemarahan yang tulus:

  • Konsisten menolak korupsi dalam kehidupan pribadi
  • Tidak menormalisasi kecurangan kecil
  • Tidak bersedia menggadaikan prinsip demi uang

Kemarahan seperti ini sulit diarahkan oleh pihak luar karena memiliki fondasi etika yang kuat.

Pilihan Sulit Kreator di Tengah Tekanan dan Iming-iming

Di tengah ancaman dan tawaran finansial, setiap kreator dihadapkan pada pilihan moral. Jalan aman mungkin menawarkan kenyamanan materi, tetapi berisiko menggadaikan integritas. Jalan sunyi mungkin penuh tekanan, tetapi menjaga akal sehat publik.

Fenomena bisnis kebencian di media digital Indonesia akan terus ada selama emosi lebih dihargai daripada nalar. Tantangannya bukan hanya pada kreator, tetapi juga pada penonton: memilih untuk berpikir, bukan sekadar bereaksi.

Marah Boleh, Dijual Jangan

Kemarahan terhadap ketidakadilan adalah hak warga negara. Namun ketika kemarahan itu dijual, diarahkan, dan dimanfaatkan untuk kepentingan tersembunyi, maka yang runtuh bukan hanya kepercayaan, tetapi masa depan bersama.

Di titik inilah kesadaran publik menjadi benteng terakhir. Bukan untuk membungkam kritik, melainkan untuk memastikan bahwa kritik tetap menjadi alat perbaikan, bukan komoditas kehancuran.

Comments

Popular posts from this blog

Kesalahan Grammar yang Bikin Malu: Bedain “Your” vs “You’re” dan “Its” vs “It’s”, Yuk!

Cara Cepat Mahir Mengetik 10 Jari Tanpa Melihat Keyboard – Wajib Tahu Buat Pelamar Call Center & Fresh Graduate!

Nyamankah dengan Gaji Customer Service Call Center Indonesia 2025