Perbedaan Kebijakan Ekonomi Sri Mulyani dan Purbaya
Tidak ada yang lebih unggul antara gaya kepemimpinan Sri Mulyani dan Purbaya. Dua-duanya sama-sama memiliki idealisme tinggi, tetapi metode mengeksekusi idealisme itu sangat berbeda. Perbedaan tersebut bahkan tidak hanya lahir dari perspektif ekonomi, tetapi juga dari cara kerja otak laki-laki dan perempuan menurut riset neurologi modern.
Dan menariknya, analisis gaya kepemimpinan menteri keuangan Indonesia, perbedaan kebijakan fiskal Sri Mulyani dan Purbaya, serta pengaruh gender terhadap pengambilan keputusan ekonomi negara justru relevan sekali di konteks ini.
Mengapa Kebijakan Mereka Seakan Berseberangan?
Salah satu sudut pandang paling unik untuk memahami karakter kebijakan keduanya adalah neurologi gender. Dalam penelitian Helen Fisher, disebutkan bahwa corpus callosum perempuan lebih tebal, membuat perempuan cenderung menimbang lebih banyak aspek sekaligus—logis iya, emosional iya. Sedangkan otak laki-laki lebih fokus pada efektivitas, arah tunggal, dan keberanian mengambil risiko.
Dari sinilah muncul dua *gaya kepemimpinan ekonomi Indonesia- yang kontras:
- Sri Mulyani – gaya defensif, kolaboratif, hati-hati, berorientasi stabilitas moneter.
- Purbaya – gaya agresif, cepat, tegas, berorientasi percepatan pertumbuhan.
Pendeknya, kebijakan fiskal Sri Mulyani itu seperti menjaga sarang, sementara strategi Purbaya seperti pemburu yang fokus pada target di depan.
Cara Kerja yang Berlawanan tapi Saling Melengkapi
Kalau ditarik ke lapangan, gaya mereka tampak jelas:
1. Pendekatan Sri Mulyani
- Memberikan anggaran dengan SOP detail
- Pendampingan langkah demi langkah
- Evaluasi dilakukan per periode
- Sangat menjaga kredibilitas data dan stabilitas fiskal
Cara kerja Sri Mulyani dalam pengelolaan anggaran daerah yang kolaboratif.
2. Pendekatan Purbaya
- Datang langsung ke lokasi
- Melakukan sidak, teguran, bahkan ancaman hukuman
- Melakukan koreksi saat itu juga tanpa menunggu periode berikutnya
- Fokus pada percepatan distribusi uang demi kesejahteraan masyarakat
Gaya kepemimpinan Purbaya yang agresif dan langsung turun lapangan.
Bahkan ada momen ketika Purbaya menegur keras oknum Bea Cukai yang nongkrong berseragam. Ini menunjukkan gaya komando langsung tanpa basa-basi.
Ketika Dua Filosofi Fiskal Bertemu dalam Arena Ekonomi Nasional
Salah satu bagian paling menarik adalah cara mereka memandang sumber prioritas negara:
1. Sri Mulyani → kuatkan pendapatan negara dulu, pastikan devisa aman.
2. Purbaya → sejahterakan dulu rakyat, nanti pendapatan negara mengikuti.
Di sinilah terlihat perbedaan filosofi makroekonomi Indonesia- yang jarang dibahas:
1. Fokus Utama dan Risiko Sri Mulyani : Pendapatan negara, devisa, stabilitas finansial, Pertumbuhan relatif lambat, Indonesia tahan krisis.
2. Fokus Utama dan Risiko Purbaya : Perputaran uang di masyarakat, Goyah jika ada krisis besar, Pertumbuhan bisa melesat.
Psikologi Gender dalam Kebijakan Publik: Seberapa Kuat Pengaruhnya?
Perbedaan ini bukan soal siapa lebih hebat, tetapi bagaimana otak mereka bekerja:
- Perempuan cenderung mempertimbangkan lebih banyak skenario risiko, masa depan, dan dampak emosional.
- Laki-laki cenderung fokus pada objektivitas, hasil akhir, dan keberanian mengambil risiko.
Maka, wajar apabila:
- Sri Mulyani menjaga cadangan devisa seperti seorang ibu menjaga kestabilan rumah.
- Purbaya mendobrak sistem seperti ayah yang turun ke lapangan berburu peluang.
Di Negara Lain Pun Begitu: Kenapa Pemimpin Perempuan Jarang Dipilih di Negara Agresif?
Contohnya Amerika Serikat. Negara tersebut cenderung agresif dan ekspansionis, sehingga publik lebih memilih sosok pemimpin dengan karakter gaya hunter.
Sebaliknya, negara seperti Selandia Baru yang sudah stabil cenderung cocok dipimpin perempuan yang ahli mengelola keseimbangan dan ketertiban internal.
Ini paralel dengan hubungan Sri Mulyani dan Purbaya: yang satu ahli menjaga, yang satu ahli mengejar.
Kalau Bukan Persaingan, Lalu Apa?
Jika dipahami lebih dalam, perdebatan siapa yang lebih baik itu keliru. Perbedaan mereka seharusnya saling melengkapi, bukan saling dijatuhkan.
Justru pada era sekarang, kombinasi keduanya bisa menjadi formula emas untuk:
- pertumbuhan ekonomi cepat,
- tetapi tetap aman dari krisis.
Di titik ini, pesan paling penting adalah: perbedaan mereka bukan karena latar politik, bukan karena angkatan, bukan karena pendidikan, melainkan karena cara kerja otak yang berbeda.
Dan kerepotannya justru muncul ketika publik membandingkan keduanya dengan cara yang keliru—menganggap yang satu lebih baik daripada yang lain, padahal ekosistem kebijakan tidak pernah bekerja seperti itu.
Karena memahami perbedaan karakter Menteri Keuangan konservatif dan menteri ekonomi agresif membuat masyarakat lebih bijak dalam menilai kebijakan negara.
Jika publik memahami dasar neurologis dan psikologisnya, narasi saling menghina antara pendukung salah satu tokoh bisa diredam.
Dan pada akhirnya, kesejahteraan rakyat tidak ditentukan oleh siapa yang lebih keras atau siapa yang lebih hati-hati, tetapi oleh bagaimana dua karakter ekonomi yang berbeda bisa berjalan beriringan.

Comments
Post a Comment